KPK Tetapkan 3 Pejabat BWS Sumatera VII Tersangka Dugaan Suap

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 03:34 WIB
KPK Tetapkan 3 Pejabat BWS Sumatera VII Tersangka Dugaan Suap Juru bicara KPK Febri Diansyah. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tiga petinggi Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Bengkulu sebagai tersangka dugaan suap terkait penanganan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan irigasi di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu.

Mereka bertiga adalah Apip Kusnadi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa II pada Satuan Kerja PJPA BWS Sumatera VII Bengkulu, M. Fauzi selaku Kepala Satker PJPA BWS Sumatera VII Bengkulu dan Edi Junaidi, Kepala Satker PJSA BWS Sumatera VII Bengkulu.

Mereka bertiga diduga memberikan suap kepada Kepala Seksi (Kasie) III Intelijen Kejati Bengkulu, Parlin Purba terkait pengumpulan data atau bahan keterangan atas pelaksanaan proyek di BWS Sumatera VII Bengkulu. Tahun anggaran 2015-2016.


"Dalam penanganan pengembangan perkara tersebut, KPK menemukan bukti permulaan yang cukup dan menetapkan tiga orang lagi sebagai tersangka," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (26/12).

Apip bersama-sama Fauzi dan Edi Junaidi diduga telah memberikan uang sebesar Rp 150 juta kepada Parlin dalam dua tahap. Suap itu diduga diberikan agar tak mengusut dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi Air Nipis Seginim dan proyek rehabilitasi jaringan irigasi primer sekunder kiri daerah irigasi Air Manjunto di Kabupaten Mukomuko.

"Uang senilai Rp150 juta tersebut merupakan kesepakatan dari permintaan sebelumnya sebesar Rp185 juta," ujar Febri.

Menurut Febri, uang suap yang diberikan tiga tersangka kepada Parlin itu merupakan bagian dari kesepakatan antara BWS Sumatera VII Bengkulu dengan sejumlah rekanan yang menggarap proyek-proyek di lingkungan BWS Sumatera VII Bengkulu.

Berdasarkan kesepakatan, setiap rekanan menyetorkan uang kutipan sebesar 6 persen dari total nilai proyek yang mereka garap.

Fee tersebut dibagi ke sejumlah pihak. Sebesar 3 persen sebagai dana operasional yang terdiri dari 2 persen untuk operasional BWS Sumatera VII Bengkulu dan 1 persen untuk operasional Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) yang disetorkan kepada Kasubag TU.

"Sementara 3 persen lainnya terbagi atas 1 persen untuk kepentingan pribadi Kepala BWS Sumatera VII Bengkulu dan 2 persen untuk biaya atau fee keamanan aparat penegak hukum," kata Febri.

Atas perbuatannya itu mereka bertiga dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Taun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (fra/osc)