Deru Lesu Metromini yang Ingin Mati Sendiri

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 10:40 WIB
Deru Lesu Metromini yang Ingin Mati Sendiri Para awak Metromini berharap armada bus sedang itu tetap ada di Jakarta. (ANTARA FOTO/M Ali Wafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bus Metromini nomor rute S72 itu melaju melawan arus, sambil meliuk-liuk menuju Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Rabu (10/10) siang. Danil, sang sopir, tak sabar menunggu kemacetan. Bus dengan nomor polisi B 7190 AT itu kemudian berhenti di barisan paling depan di sebuah perempatan.

Lampu lalu lintas masih merah, tapi sopir sudah tancap gas lagi. Beberapa pengendara yang hendak melintas dibuat kesal, klakson dinyalakan bukti protes, sebagian melempar makian. Kernet yang berdiri di pintu segera menimpali enteng, "Sorry, boy!"

Bus melaju santai sekitar 30 kilometer per jam, spidometernya tak lagi berfungsi. Bunyi melengking dari pedal kopling terdengar jelas di antara bising deru mesin. Aspal hitam terlihat dari balik lantai keropos yang menganga di bawah pedal.



Danil duduk miring bersandar di pintu sopir. Tangan kirinya mahir mengendalikan setir sambil sesekali memindah persneling. Sementara tangan kanan mengapit sebatang kretek dengan siku bertumpu di jendela. Seragam merah lusuh berlogo Metromini tak lagi dikancingkan.

Sesekali Danil menenggak anggur dari gelas plastik yang diselipkan di besi jendela. Kepalanya mulai terasa agak pening, meski menurutnya efek alkohol itu mudah hilang. Pria 38 tahun itu pernah mabuk hingga muntah di bus, posisinya lalu diganti sopir cadangan.

Di satu tempat di mana biasanya banyak penumpang, Dahnil menghentikan metromininya. Siomai bawaan kawan dilahapnya sambil menunggu rezeki datang. Seharian dia mengaku belum makan.

"Sekarang mau makan aja di mobil [Metromini]. Istri kadang juga suka menyusul ke terminal bawain nasi daripada jajan di luar, boros. Saya menurut saja," ujar Danil dengan nada lirih.

Deru Lesu Metromini Ingin Mati Sendiri (EMBG-7)Gaya menyetir sopir Metromini. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Metromini menjadi sumber penghasilan utama bagi ayah empat anak ini, walaupun pendapatannya jauh mencukupi kebutuhan hidup keluarga. "Biar ada pemasukan per hari saja," kata Danil. Istrinya pun sudah lama berhenti bekerja.

Metromini buatan tahun 1988 itu adalah sewaan dari orang tua. Setiap hari dia mesti menyisihkan Rp250 ribu untuk setoran, selain uang bensin, montir, dan cuci mobil. Belum lagi jika ada razia, dia mesti menyiapkan uang sogok lantaran masa berlaku kirnya sudah habis. Busnya juga pernah kena tilang namun belum sanksi denda belum dibayarnya karena alasan duit.

"Mau diambil enggak ada duit. Kita jalan terus aja. Bisa sih diambil, tapi nanti yang di rumah enggak makan," katanya.


Sepanjang perjalanan dari Terminal Blok M ke Lebak Bulus, penumpang yang dibawa Danil hanya hitungan jari. Danil menyadari Metromini semakin tak diminati, apalagi sejak ada ojek online dan bus Transjakarta yang mengaspal di trayeknya.

"Transjakarta itu bagi saya mobil 'sampah'. Dikeruk semua sewa [penumpang] kami, dia makan tiga trayek," katanya dengan nada geram.

Transjakarta yang dimaksud adalah jurusan Ciputat-Tosari. Jalur yang dilaluinya menimpa trayek Metromini S72, Kopaja B86, dan Koantas Bima P102.

Terkait hal ini, Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Masdes Aroufi mengakui trayek bus ukuran sedang memang saling tumpang tindih, termasuk dengan Transjakarta.

Pihaknya mencatat, saat ini terdapat 93 trayek bus sedang di Ibu Kota. Sebanyak 54 di antaranya adalah trayek Metromini, sebagian besar berada di Jakarta Selatan. Sisanya dilayani Kopaja 30 trayek, Koantas Bima 5 trayek, Kopami 3 trayek, dan Dian Mitra 1 trayek.

Dishub berencana memangkasnya menjadi 46 trayek, seiring integrasi bus sedang ke PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) pada 2019.
Metromini Hanya Ingin Mati SendiriBus Metromini jurusan Lebak Bulus-Blok M tengah mengetem. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Menghabisi Metromini

Ruang rapat kantor Dishub DKI Jakarta dipenuhi pimpinan dan perwakilan lima operator bus sedang pada Jumat kedua Oktober lalu. Mereka duduk melingkar di meja panjang. Sebagian rela berdiri tak kebagian kursi.

Masdes memimpin rapat. Lima operator ditanya kesiapannya soal integrasi angkutan bus sedang dalam sistem yang dikelola PT Transjakarta, badan usaha milik DKI Jakarta di bidang transportasi.

"Masa tenggang kita untuk armada yang lama sebentar lagi habis tahun ini, 2018. 2019 sudah cerita unit dan pola kerja sama yang baru. Harapan dan targetnya seperti itu," ujar Masdes.

Awal 2016, Pemprov DKI Jakarta gencar menghentikan izin operasi angkutan umum berusia lebih dari 10 tahun. Dasarnya, Pasal 51 Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi.
Deru Lesu Metromini yang Ingin Mati SendiriPeremajaan Metro Mini digencarkan sejak 2015. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Sejak aturan itu diterapkan, pemerintah telah menyetop izin operasi Metromini sebanyak 1.603 dari 3.101 unit. Kebijakan itu sempat ditentang Forum Komunikasi Pemilik Metromini.

Para pemilik Metromini akhirnya diberi toleransi untuk meremajakan armada selama tiga tahun. Namun, hal itu dibarengi upaya memusnahkannya secara perlahan.

Polanya, setiap dua bus yang ingin diperpanjang izin trayeknya, pemilik Metromini harus menyerahkan satu bus untuk dicabut izinnya. Aturan itu berubah pada 2017, perpanjangan izin trayek setiap bus harus diikuti pencabutan izin satu bus lainnya untuk dimusnahkan.

Deru Lesu Metromini Ingin Mati Sendiri (EMBG-7)Edison Manurung, pemilik Metromini di kawasan Pulogadung. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Edison Manurung, salah satu pemilik Metromini, dengan berat hati mengorbankan enam bus untuk dicabut izin trayeknya. Saat ini, pria 60 tahun itu hanya memiliki tiga bus. Beberapa sopir dan kernet yang bekerja dengannya kini menganggur.

Manurung akhirnya menjual bus tanpa surat izin trayek itu ke pengepul besi rongsok. Satu unit bus dihargai sekitar Rp6 juta.

"Dikiloin semua. Masih kondisi hidup dijual ke [orang] Madura, dipotong," kata Manurung saat ditemui di bengkelnya, sekitar seratus meter dari kantor PT Metromini, Jakarta Timur.


Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi DKI Jakarta sepanjang Agustus 2017 hingga September 2018, jumlah Metromini yang masih aktif sebanyak 307 unit. Tiga bus di antaranya buatan tahun 1977 dan dua bus paling baru keluaran 2015.

Direktur Utama PT Metromini Nofrialdi mempertanyakan dasar hukum yang dipakai untuk memusnahkan Metromini dengan pola satu banding satu tersebut.

"Metromini ini coba ditertibkan yang bagus, jangan dimatikan begitu seenaknya saja. Kebijakan ini tidak ada ketentuannya," katanya.

Deru Lesu Metromini Ingin Mati Sendiri (EMBG-7)Direktur Utama PT Metromini, Nofrialdi. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Nofrialdi yakin Metromini tak akan habis pada 2019. Dia mengklaim masih ada ribuan orang yang menggantungkan hidup dari bus oranye-biru itu, meski terseok-seok mempertahankannya.

"Biarlah dia mati sendiri, katakanlah karena [Metromini] enggak sanggup beroperasi, tapi jangan kita yang mematikan," ujar Nofrialdi.

Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko tak mengetahui detail kebijakan itu. Dia menyatakan akan mengeceknya terlebih dahulu.


Sejumlah sopir, termasuk Danil, memiliki keyakinan yang sama. Mereka akan tetap menjalankan Metromini di usia senja. "Angkutan umum ini enggak akan habis," kata Danil.

Dian Kusrini, salah satu penumpang setia Metromini S72 merasa kehilangan jika tahun depan populasi bus itu benar-benar habis. Dia berharap Metromini bisa memperbaiki diri di sisa hidupnya. "Jangan kebut-kebutan, itu saja," pesannya.

[Gambas:Video CNN] (pmg/pmg)