Ratusan Pelajar Afghanistan Belajar Agama Islam di Pesantren

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Sabtu, 01/09/2018 04:38 WIB
Ratusan Pelajar Afghanistan Belajar Agama Islam di Pesantren Ilustrasi belajar agama di Pesantren. (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan pelajar dari Afghanistan bakal belajar di sejumlah pondok pesantren di Indonesia selama empat bulan ke depan. Pembelajaran di pesantren ini merupakan program kerja sama yang dijalin antara pemerintah Afghanistan dengan Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, para pelajar Afghanistan itu akan dibagi ke dua tempat yakni pesantren Darul Ulum di Lido, Bogor, Jawa Barat dan pesantren Tazakka di Batang, Jawa Tengah.

Mereka diharapkan bisa belajar kehidupan tentang Islam di Indonesia yang moderat dan disebut penuh kedamaian.


"Tentu juga bisa saling memberikan informasi bagaimana kehidupan keagamaan di Afghanistan, saling tukar pendapat, dan itu sangat bermanfaat untuk masa datang," ujar JK saat memberikan sambutan dalam pembukaan diklat 'Program Pendalaman Agama Islam Bagi Pelajar Afghanistan' di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (31/8).


Menurut JK, Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memiliki banyak kesamaan dengan Afghanistan.

Salah satunya, Indonesia pernah mengalami konflik keagamaan meski tak separah yang terjadi di negara yang beribu kota di Kabul itu.

JK sendiri mengaku prihatin karena Afghanistan belakangan justru berkonflik dengan sesama rakyatnya sendiri. Ia berharap kemakmuran Afghanistan dapat dicapai generasi mudanya melalui program yang dijalankan pemerintah Indonesia dengan Afghanistan ini.

"Itu harapan saya mudah-mudahan kalian dapat bertemu dengan teman-teman kalian, belajar dengan baik," ucap JK.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif Ma'ruf Amin mengaku antusias dengan program yang dijalankan pemerintah.


Ma'ruf mengatakan dalam program tersebut para pelajar dari Afghanistan dapat mempelajari ilmu agama yang selama ini diterapkan di Indonesia.

Menurutnya, karakteristik masyarakat Indonesia selama ini dikenal ramah dan moderat dengan latar belakang yang majemuk, baik dari suku, etnis, maupun agama. Ia berharap sikap ini dapat menjadi contoh bagi para pelajar Afghanistan.

"Kita ingin kepada mereka diperlihatkan 'begini lho kehidupan kami di Indonesia', cara kami membangun persaudaraan, ukhuwah, bergaul, apalagi sesama muslim. Walaupun dengan non muslim kami juga bisa rukun dan damai," kaat Ma'ruf. (end)