Indonesia Diperkirakan Rugi Rp5,7 T karena Campak dan Rubella

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 23/08/2018 18:18 WIB
Indonesia Diperkirakan Rugi Rp5,7 T karena Campak dan Rubella Ilustrasi. Siswa mengikuti penyuntikan vaksin Measles Rubella dan Campak. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia diperkirakan mengalami kerugian ekonomi akibat penyakit Measle-Rubella (MR) mencapai Rp5,7 triliun. Kerugian itu dinilai tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan untuk kampanye dan imunisasi MR hanya lebih kurang Rp29 ribu.

Indonesia merupakan satu dari 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia pada 2015 menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Kemenkes mencatat jumlah kasus campak dan rubela dalam 2014 sampai dengan Juli 2018 mencapai 57.056 kasus (8.964 positif campak dan 5.737 positif rubela).


Pada 2014, terdapat 12.943 kasus suspek campak rubela (2.241 positif campak dan 906 positif rubela. Pada tahun berikutnya, tercatat 13.890 kasus suspek campak rubella dengan 1.194 jiwa positif campak dan 1.474 positif rubella.


Pada 2016, angkanya sedikit menurun dengan hanya tercatat 12.730 kasus suspek campak rubela yang tercatat dengan 2.949 positif campak dan 1341 positif rubella.

Namun di tahun berikutnya, kasus ini tercatat kembali naik menjadi 15.104 kasus. 383 kasus positif campak dan 732 positif rubela.

"Lebih dari tiga per empat dari total kasus yang dilaporkan baik campak (89 persen) maupun rubela (77 persen) diderita oleh anak usia di bawah 15 tahun," tutur Dirjen P2P Kemenkes RI, Anung Sugihantoni, di kantornya pada Kamis (23/8).

Aman Pulungan dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengatakan Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah penderita campak terburuk kedua di dunia setelah India. Setiap tahun, kata Aman, rata-rata 2.700-2.800 anak terjangkit penyakit tersebut.


Penderita campak bisa berujung menderita komplikasi berupa diare, meningitis, bahkan kematian. Sekitar 1 dari 20 penderita campak mengalami radang paru, sementara 1 banding 1.000 penderita terkena kompilasi radang otak.

Selain itu, komplikasi lain adalah infeksi telinga yang berujung tuli dan diare yang masing-masing probabilitasnya 1 banding 10.

Dampak dari penyakit campak secara ekonomi sangat besar. Tanpa komplikasi saja, penderita menghabiskan Rp2,7 juta per kasus. Jika terkena komplikasi maka pengobatan yang diperlukan sebesar Rp13 juta per kasus di luar biaya hidup saat perawatan.

Sementara, penderita rubella sangat mudah menginfeksi janin yang dikandung ibu hamil. Janin tersebut bisa gugur atau lahir dengan kecacatan yang fatal berupa kebutaan, jantung bocor, atau otak kecil yang bersifat permanen kepada bayi atau disebut Congenital Rubella Syndrome (CRS).


Selama 4 tahun terakhir hingga Juli 2018, data rumah sakit di seluruh Indonesia mencatat 1.660 kasus CRS telah terjadi. Biaya minimal yang dibutuhkan untuk anak penderita CRS mencapai Rp395 juta per orang.

Dana itu termasuk untuk penanaman koklea pada telinga, operasi jantung dan mata. Biaya itu belum termasuk biaya perawatan kecacatan seumur hidup.

"Kalau biayanya sedemikian besar untuk satu anak, siapa yang akan menanggungnya? Penyakit ini merusak generasi ke depan," lanjut Aman.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah resmi memperbolehkan vaksin Measles Rubella (MR) yang merupakan produk dari Serum Institute of India (SII). Penggunaan vaksin tersebut menjadi polemik karena mengandung babi.

Namun MUI menghalalkan penggunaan vaksin tersebut karena tiga alasan utama yaitu karena darurat, ahli menyatakan dampak bahaya tanpa vaksin ini dan karena belum adanya vaksin halal dan suci lain yang bisa digunakan.
(pmg)