Polri Angkat Suara soal Kebocoran Data Facebook

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Jumat, 06/04/2018 18:53 WIB
Polri Angkat Suara soal Kebocoran Data Facebook Polri menyatakan Facebook seharusnya menghargai hak pribadi penggunanya di Indonesia. Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Polri terkait dengan dugaan kebocoran data pengguna Facebook di Indonesia. Kepolisian memastikan siap untuk melakukan pengusutan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Muhammad Iqbal mengatakan seharusnya Facebook menghargai aturan privasi di Indonesia. Data pengguna Facebook merupakan hal yang bersifat pribadi dan tidak selayaknya dibocorkan.

"Kita mendukung Kemkominfo dan Facebook harus juga menghargai budaya-budaya yang ada di Indonesia, karena data-data yang ada itu adalah data-data pribadi, data-data privasi," kata Iqbal kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/4).



Iqbal membenarkan Kemkominfo meminta bantuan Bareskrim Mabes Polri mengusut kebocoran data. Permintaan itu diajukan pada Kamis (5/4) kemarin.

Menurut Iqbal, penyidik sedang melanjutkan permintaan Kemkominfo buat mengusut Facebook. Meski demikian Iqbal belum dapat memastikan kapan mulai memeriksa perwakilan media sosial itu di Indonesia.

"Benar bahwa Kemkominfo sudah melakukan koordinasi dengan kepolisian, saat ini kita sedang melakukan koordinasi untuk langkah-langkah depan. Masalah ke depan (memeriksa pihak Facebook) kalau polisi itu jelas kayak gitu," ujar Iqbal.


Sebelumnya, Facebook mengungkap jumlah pengguna yang datanya dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica mencapai 87 juta akun, lebih banyak dari laporan awal sekitar 50 juta akun.

Melalui blog perusahaan, Chief Technology Officer (CTO) Facebook Mark Schoepfer merilis daftar pengguna berdasarkan negara yang paling terdampak dari kebocoran data ini. Mayoritas berasal dari Amerika Serikat sebanyak 70,6 juta akun atau 81,6 persen.

Indonesia berada di peringkat ketiga dalam daftar tersebut dengan 1 juta lebih akun, satu nomor di bawah Filipina dengan 1,1 juta lebih akun. (ayp/asa)