BPK Tak Ragu Audit Senjata Brimob Polri

Bimo Wiwoho , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 22:30 WIB
BPK Tak Ragu Audit Senjata Brimob Polri Kepala Korps Brimob Polri Irjen Murad Ismail menunjukkan jenis senjata pelontar granat SAGL, di Mabes Polri, Sabtu (30/9). BPK mengaku akan mengaudit proses pengadaan senjata tersebut. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tengah mengaudit mekanisme pembelian senjata oleh Polri yang kini menjadi polemik. Jika ada keanehan dalam pengadaannya, lembaga auditor itu siap mengumumkannya kepada publik.

"(Pengadaan senjata Polri) itu bagian dari susbtansi pemeriksaan. Yang jelas tim sedang berjalan di lapangan. Kita akan lihat proses pengadaannya," kata Kepala Biro Humas BPK Yudi Ramdhan menyebut, di Kantor BPK, Jakarta, Kamis (12/10).


Yudi mengatakan, pihaknya bakal mendasarkan pada fakta di lapangan dalam memeriksanya. Jika ada kejanggalan, BPK tidak akan sungkan untuk membeberkan kepada masyarakat

"BPK memiliki kompetensi dan kemampuan untuk melihat banyak informasi dan menganalisis. Itu bagian dari substansi dan metodologi audit," tutur Yudi.

Meski begitu, untuk saat ini BPK belum bisa membeberkan ada atau tidaknya pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh Polri dalam pembelian senjata. Menurut Yudi, proses pemeriksaan segala jenis transaksi senjata api yang dilakukan pada semester pertama tahun 2017 itu masih dilakukan.

"Jadi tunggu saja. Kalau nanti laporannya sudah ada nanti kita akan beritahu," kata Yudi.


Diketahui, Polri baru saja mengimpor senjata dan amunisi dari Bulgaria untuk mendukung satuan Brimob dalam menjalankan tugasnya. Senjata dan amunisi tersebut ditempatkan ke dalam beberapa kargo dan diantar oleh pesawat maskapai Ukraine Air Alliance.

Berdasarkan kargo yang tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Jumat lalu (29/9), tercatat ada 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40x46mm yang dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak) dengan berat total 2.212 kg.

Amunisi dalam kargo tersebut merupakan jenis RLV-HEFJ kaliber 40x46mm yang dikemas dalam 70 boks (84 butir per boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya, mencapai 5.932 butir dengan berat 2.829kg.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Wuryanto, pada Selasa (10/10), mengatakan, amunisi yang baru didatangkan dari Bulgaria tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan Polri. Sebab, itu termasuk amunisi tajam dan dapat mematikan. Oleh karenanya, TNI menahan seluruh amunisi tersebut di gudang amunisi Mabes TNI. Pihak TNI hanya mengijinkan Brimob Polri mendapatkan Senjata SAGL.

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi III DPR, Kamis (12/10), Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta semua pihak berhenti berpolemik tentang impor senjata api.

Sebab, Pemerintah sudah membentuk tim internal yang terdiri atas 11 instansi dan dikoordinasi oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto. Masyarakat diminta untuk menunggu hasil kerja tim ini.


"Saya berpikir bahwa polemik mengenai senjata api termasuk yang di Brimob tidak menjadi polemik yang berkelanjutan," kata dia, seperti dikutip dari Antara.

Tito juga menyatakan, hubungan antara Polri dengan TNI solid meskipun ada polemik senjata api itu. Kedua institusi tersebut, lanjutnya, berperan signifikan dalam menjaga NKRI.