Tri Wahyuni
Video jurnalis CNNIndonesia.com, pencinta traveling, fotografi, dan makanan enak.

KRL dan Ujian Orang-orang Sabar

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Selasa, 10/10/2017 09:41 WIB
KRL dan Ujian Orang-orang Sabar Ilustrasi kepadatan KRL dari Cikarang ke Jakartakota. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perjalanan kereta rel listrik (KRL) lintas Bekasi kini sampai ke Cikarang. Kalau tadinya KRL dari Jakartakota hanya sampai Stasiun Bekasi atau sebaliknya, kini PT Kereta Commuterline Jabodetabek (KCJ) membuka rute baru melewati Stasiun Bekasi Timur, Tambun, Cibitung, dan berakhir di Cikarang.

Bagi sebagian orang, apalagi warga Cikarang dan sekitarnya, ini tentu berita baik. Dengan membayar tarif tak sampai Rp10 ribu, mereka bisa menjangkau ibu kota untuk mencari nafkah atau sekadar berjalan-jalan, dengan estimasi waktu perjalanan yang lebih cepat. Tak usah bermacet-macet ria di jalan tol.

Namun bagi sebagian lainnya, perpanjangan rute ini justru membuat was-was karena jumlah penumpang semakin banyak sementara tak ada penambahan kereta untuk mengangkut mereka.

Padahal, pada jam-jam sibuknya saja KRL Bekasi-Jakartakota sudah menguji kesabaran penumpang hingga ke batas tertinggi.  

Di jam-jam ramai, jumlah penumpang luar biasa membludak. Jika tidak pandai-pandai selip sana selip sini, dorong sana dorong sini, bisa dipastikan penumpang tidak terangkut.

Saya sendiri pernah tiga kali tidak terangkut KRL dari Stasiun Cakung hanya karena kaki saya sedang cedera, sehingga tak berani untuk terlibat aksi dorong.

Ketika berhasil masuk pun posisi berdiri tidak jelas. Kaki dan badan tidak berada dalam tempat semestinya karena harus berdesakan.

Belum lagi pendingin udara yang kadang tidak terasa ketika kereta penuh, bikin nafas terengah. Akibatnya, sampai tempat tujuan penampilan sudah tak karuan karena keringat bercucuran.

Ini juga belum bicara masalah keamanan karena dalam kondisi berdesak-desakan, tentu barang rentan hilang.

Maka tak heran ketika perpanjangan rute perjalanan KRL sampai Cikarang benar-benar terjadi, pengalaman saya bisa saja terjadi pada banyak orang.

Bahkan ketika mereka tidak menderita cedera.

Sejak lama para penumpang KRL jurusan Bekasi-Jakartakota harus berdesak-desakan. Sejak lama para penumpang KRL jurusan Bekasi-Jakartakota harus berdesak-desakan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Bagaimana tidak, pada awal pengoperasiannya saja, yang jatuh pada Minggu (8/10), volume pengguna KRL di Stasiun Bekasi Timur, Stasiun Tambun, dan Stasiun Cibitung mencapai lebih dari 5.000 penumpang. Sementara, volume di Stasiun Cikarang jumlahnya mencapai lebih dari delapan ribu penumpang pada hari pertama.

Bisa dibayangkan jumlah itu akan meningkat di hari-hari biasa. Dengan jumlah 16 kali pemberangkatan setiap hari, apakah penumpang bisa terangkut dengan layak?

Di linimasa Twitter, para rombongan kereta (roker) mengeluh mencuitkan pengalamannya. Ada beberapa orang yang mengunggah foto KRL yang superpenuh sehingga banyak penumpang yang tidak terangkut.



Bahkan, ada seorang ibu yang jatuh terbentur peron akibat berdesakan ingin masuk ke kereta.



Potret ini tentu saja menggambarkan ketidaksiapan PT KCJ.

Padahal, semua orang tahu, mereka juga pasti tahu, ketika ada perpanjangan rute jumlah penumpang akan semakin banyak.

Untuk menghindari kejadian seperti tidak terangkutnya penumpang, atau kecelakaan saat berdesak-desakan, sudah semestinya PT KCJ menambahkan rangkaian kereta, jika tak mungkin menambahkan jadwal perjalanan kereta karena lintas Bekasi sudah padat dengan perjalanan KRL, kereta barang, dan padatnya jadwal kereta jarak jauh.

Hal ini pasti tak mudah --kami tahu-- tapi keluhan membludaknya penumpang bukan barang baru lagi.

Kami juga paham bahwa di masa depan nanti ada solusi berupa pemisahan lintasan antara KRL dan kereta jarak jauh Jakarta-Surabaya, serta kereta barang, dengan adanya proyek penggandaan rel utama (Double-double track).

Hanya saja, haruskah kami terus menderita selama proyek itu belum berwujud di depan mata kami?

Kami, pengguna setia KRL, bukan tidak pernah menyampaikan keluhan. Setiap hari, di linimasa Twitter kami selalu menyampaikan keluhan pada akun @CommuterLine. Mulai dari pendingin mati, penumpang tidak tertib, kereta terlambat, semua kami sampaikan.

Tapi seolah bicara dengan tembok, perbaikan tidak kami rasakan. Entah tim terkait tidak menyampaikan keluhan, atau protes kami memang sulit ditangani. Kami tak pernah tahu.

Atau mungkin PT KCJ sedang disibukkan proyek-proyek modernisasi stasiun? Tapi setahu saya, itu urusan PT KAI.

Lantas, apa yang sedang dikerjakan PT KCJ?

Kami sering mencoba untuk mencari tahu, agar kami lebih mengerti kondisinya, tapi yang kami dapatkan hanya jawaban permohonan maaf dengan pola sama.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, perihal tersebut akan kami sampaikan ke unit terkait untuk di evaluasi kembali, tks,” cuit akun @CommuterLine.

Mungkin penyedia jasa layanan transportasi umum belum siap, mungkin pemerintah juga belum sanggup menghadapi antusiasme tinggi masyarakat pada transportasi umum.

Ini tentu sebuah ironi karena pemerintah terus dan terus mengimbau masyarakat menggunakan transportasi massal demi mengurangi kemacetan.

Nyatanya, sering kali kebijakan mendorong penggunaan transportasi massal ini tak diiringi kalkulasi matang antara jumlah penumpang dan jumlah kendaraan. 

Akibatnya, terkesan setengah-setengah. Sekadar ada saja, tapi tidak serius diurus. Maka tak heran sering kali penumpang kecewa atau bahkan merasa ditelantarkan.


(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS