Lalu Rahadian
Lulusan Jurusan Ilmu Politik UGM dan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang terjun ke dunia jurnalistik sejak akhir 2014. Pendukung Juventus, penikmat musik, dan mencintai pantai.

Menikmati Nasi Bebek dengan Ujaran Kebencian

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Jumat, 06/10/2017 16:30 WIB
Menikmati Nasi Bebek dengan Ujaran Kebencian
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai penggemar nasi bebek khas Madura, saya merasa senang lantaran makanan tersebut semakin mudah ditemui keberadaannya di DKI Jakarta dalam kurun waktu setahun terakhir.

Kegemaran saya terhadap nasi bebek madura muncul di awal 2015, ketika belum banyak penjual panganan tersebut ditemukan di ibu kota. Sulit mencari pedagang ini.

Lama-lama, kesulitan yang saya alami dalam mencari pedagang nasi bebek madura berkurang. Semakin banyak lapak makanan tersebut ditemukan di pinggir-pinggir jalan ibu kota.

Menjamurnya pedagang nasi bebek madura di Jakarta ini dipastikan karena ada permintaan yang meningkat.

Hukum ekonomi yang berbicara di sini.

Hukum ekonomi pada peningkatan pedagang nasi bebek Madura di Jakarta juga berlaku pada fenomena peningkatan hoax berbalut SARA dan ujaran kebencian pada waktu bersamaan.

Informasi hoax mulai menjamur sejak pemilu presiden 2014.

Saat itu, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, tak luput dari serangan berita bohong.

Fenomena serupa berlanjut dua tahun kemudian ketika Pilkada DKI Jakarta.

Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, selaku gubernur petahana dan calon kepala daerah menjadi sasaran utama serangan informasi hoax pun SARA.

Dalang dibalik perederan informasi hoax dan SARA ini mulai terungkap setelah Badan Reserse dan Kriminal Polri menangkap pengelola grup 'Saracen' di media sosial Facebook, akhir Agustus 2017.

Polisi menduga bahwa Saracen dikelola secara terorganisir selama dua tahun terakhir dan Sindikat tersebut memasang tarif puluhan juta bagi pihak yang ingin memesan konten ujaran kebencian dan bernuansa SARA.

Sindikat itu melancarkan aksinya menggunakan 800 ribu akun media sosial. Jualan ujaran kebencian, hoax, dan SARA ala Saracen laku di dunia maya lantaran banyak peminatnya.

Pemasangan tarif hingga puluhan juta tak mungkin terjadi jika peminat jasa Saracen sedikit, bahkan diduga sebagian dari konsumen itu adalah politisi.

Perdagangan isu hoax, ujaran kebencian, dan SARA akan tetap tinggi memasuki 2018.

Label 'tahun politik' menjadi penyebab keberadaan pedagang-pedagang isu SARA dan hoax, serta ujaran kebencian, selain Saracen yang muncul.

Isu SARA, hoax, dan ujaran kebencian akan tetap laku jika banyak peminatnya. Penjajanya bahkan bisa sangat menjamur, tergantung situasi dan kondisi masyarakat selaku konsumen.

Untuk membatasi dan menahan perkembangan penjual, perlu ada peran aparat penegak hukum.

Layaknya Satuan Polisi Pamong Praja yang bisa menertibkan pedagang kaki lima, polisi juga dapat menangkap para pemain bisnis ujaran kebencian seperti Saracen.

Langkah tegas polisi telah terbukti setelah penangkapan dan penetapan tersangka kepada Jon Riah Ukur Ginting alias Jonru yang kemudian menjadi tersangka dalam kasus ujaran kebencian.

Jonru merupakan orang yang kerap mengunggah status kontroversi di media sosial.

Namun, patut diperhatikan, pecinta nasi bebek madura pasti rela pergi jauh hingga ke pusat jajanan serba ada (pujasera) untuk mencari makanan kesukaannya, jika nantinya penertiban PKL dilakukan.

Hal sama juga bisa terjadi dengan 'penikmat' ujaran kebencian dan isu hoax serta SARA.

Berbagai cara pasti akan dilakukan demi kelancaran berkembangnya berita-berita bohong berbalut SARA, meski penangkapan demi penangkapan para penjual dilakukan polisi.

Bisa jadi, mereka akan bergeser menikmati isu-isu lain diluar SARA yang tujuan utamanya tetap untuk 'mengenyangkan' hawa nafsu.

Hukum ekonomi pun akan kembali berlaku. Jika ada permintaan pasti ada penawaran.

LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS