'Dua Tahun Jokowi, Poros Maritim Baru Sekadar Konsep Bagus'

Tiara Sutari , CNN Indonesia | Rabu, 05/10/2016 13:19 WIB
'Dua Tahun Jokowi, Poros Maritim Baru Sekadar Konsep Bagus' Peneliti sejarah maritim Azyumardi Azra menilai langkah Indonesia menuju poros maritim dunia jauh panggang dari api. (ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti sejarah maritim Azyumardi Azra menilai hingga kini Indonesia poros maritim dunia yang diimpikan Presiden Jokowi baru sebatas wacana. Sebab, menurutnya, pembangunan sektor maritim, baik infrastruktur maupun sumber daya manusia, belum dimulai dengan sungguh-sungguh.

"Pembangunan poros maritim di Indonesia itu jauh panggang dari api. Hanya konsep saja yang bagus, tapi sampai sekarang tidak ada pembangunannya," kata Azyumardi kepada CNNIndonesia.com di Jakarta.

Infrastruktur kelautan yang seharusnya dibangun untuk memperkuat poros maritim, menurut Azyumardi, justru diabaikan oleh pemerintah.

Pemerintah, kata dia, hanya fokus pada pemenuhan sektor pangan dan pembangunan fondasi melalui serangan terhadap para pelaku penangkap ikan ilegal (illegal fishing).

Pembangunan infrastruktur kelautan, ujar Azyumardi, bisa diawali dengan membangun pelabuhan bertaraf internasional di seluruh Indonesia, dan memperbanyak armada kapal penangkap ikan.

Hal tersebut bisa menjadi solusi guna meredam kekecewaan masyarakat nelayan atas berbagai kebijakan pemerintah yang mereka anggap merugikan.

Jika infrastruktur telah terbangun apik, maka pergerakan sektor maritim akan mudah, dan pendapatan di sektor lain juga bakal ikut meningkat.

Pemerintah juga dinilai harus mulai mengembangkan sumber daya manusia, bukan berhenti pada persoalan infrastruktur atau penguatan konektivitas antarkapal.

Sumber daya manusia, kata Azyumardi, adalah modal utama dalam membangun poros maritim dunia.

"Enggak bisa infrastruktur bagus tapi masyarakatnya enggak pinter. Tetap saja itu tidak maju. Semua harus seimbang," kata Azyumardi.
Secara terpisah, Tenaga Ahli Utama Staf Presiden RI Riza Damanik mengatakan terdapat skala prioritas dalam membangun Indonesia menuju poros maritim dunia. Salah satunya yakni takap akselerasi yang sekarang sedang diutamakan.

Akselerasi itu fokus pada pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut Indonesia.

"Tahun lalu itu kita perkuat fondasi, salah satunya memberantas illegal fishing. Sekarang kita maju pada pemanfaatan dan pengolahan," kata Riza.

Sejauh ini Riza menilai poros maritim secara bertahap mengalami kemajuan. Hal ini, menurutnya, bisa terlihat dari tiga indikator utama, yakni trayek laut yang menjamin ketersediaan logostik, ekspor perikanan yang mulai bergeser kepada produk-produk bernilai tambah dan olahan, serta indikator kesejahteraan nelayan yang mulai membaik.

"Kita berada pada jalur yang benar. Semua ada tahapannya. Soal infrastruktur dan peningkatakan sumber daya manusia pun sudah mulai kami kembangkan," kata Riza.

Visi Indonesia sebagai poros maritim dunia dipicu salah satunya oleh pusat gravitasi dunia yang tengah bergeser dari Barat ke Timur, baik geoekonomi maupun geopolitik. Maka sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar, dan inilah yang ingin digali oleh pemerintah Jokowi.

Lima pilar poros maritim

Poros maritim sendiri merupakan gagasan untuk menghubungkan antarpulau di Indonesia dengan mengembangkan industri perkapalan dan perikanan, memperbaiki transportasi laut, dan menjamin keamanan perairan nusantara.

Terdapat lima pilar utama yang diniatkan pemerintah Jokowi sebagai penopang Indonesia menuju poros maritim dunia.

Pertama, pembangunan kembali budaya maritim Indonesia. Kedua, komitmen dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut, dengan fokus membangun kedaulatan pangan melalui pengembangan industri perikanan dan nelayan.

“Sebab kekayaan maritim akan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat,” kata Presiden Jokowi akhir tahun lalu, seperti dikutip dari laman resmi kepresidenan di PresidenRI.go.id.
Ketiga, komitmen untuk mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol dan pelabuhan laut, logistik, industri perkapalan, serta pariwisata maritim.

Keempat, diplomasi maritim guna mengajak semua mitra Indonesia bekerja sama pada bidang kelautan.

“Hilangkan sumber konflik di laut seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut,” ujar Jokowi.

Kelima, pembangunan kekuatan pertahanan maritim terkait posisi strategis Indonesia yang menjadi titik tumpu dua samudra.

Namun, menurut Azyumardi, jika konsep tersebut tak diimplementasikan secara sungguh-sungguh, maka Indonesia poros maritim dunia tak bakal terwujud  bahkan untuk satu dekade ke depan.