Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergey Lavrov mengaku berbincang dengan Menlu Amerika Serikat (AS), Marco Rubio di sela-sela perhelatan KTT G20 di Atlanta, AS.
Momen tersebut menjadi sorotan lantaran kehadiran Lavrov ditentang keras oleh sejumlah perwakilan negara Eropa yang hadir dalam pertemuan itu.
Lavrov mengaku percakapannya dengan Rubio berjalan dengan baik di tengah keterbatasan waktu yang mereka punya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami melakukan pembicaraan yang cukup baik, meskipun singkat, karena untuk alasan yang dapat dipahami, dia memiliki banyak tugas sebagai tuan rumah," ujarnya kepada wartawan usai pertemuan.
Ia juga menghargai sikap pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai mampu memahami 'akar masalah' dari konflik Rusia dengan Ukraina.
Lavrov juga memuji kesiapan Washington untuk menjalin hubungan dengan Moskow. Di sisi lain, Lavrov justru melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Eropa karena tindakan boikot mereka yang dinilai arogan.
Sebelumnya pertemuan tingkat menteri luar negeri dari negara-negara G20 di Atlanta, Amerika Serikat, yang berlangsung sejak Jumat (30/10), diwarnai ketegangan.
Situasi panas tersebut mencuat sebelum diskusi resmi dimulai. Ketegangan dipicu oleh penolakan keras atas kehadiran Rusia dalam forum tersebut.
Sejumlah pejabat Eropa bahkan mengancam akan melakukan aksi walk out ketimbang harus berada dalam satu foto dengan Lavrov. Sementara itu Rubio akhirnya membatalkan agenda sesi foto bersama meskipun rangkaian diskusi tetap dilanjutkan sesuai rencana.
Beberapa pejabat Eropa menyatakan keengganannya untuk tampil dalam satu bingkai foto bersama Lavrov. Pemerintah Inggris menyebutkan mereka memiliki kebijakan jangka panjang untuk menolak pertemuan bilateral langsung dengan menteri Rusia sejak invasi negara tersebut ke Ukraina pada tahun 2022.
Menteri Luar Negeri Polandia Radosław merespons pembatalan sesi foto tersebut sebagai "keputusan yang tepat." Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menekankan, "tidak ada keadaan yang normal dengan Rusia," meski ia mengakui para pejabat tetap perlu berdialog untuk mendiskusikan perbedaan pandangan mereka.
Daftar undangan pertemuan ini juga memicu sorotan. Ukraina, yang menjadi episentrum konflik dengan Rusia, tidak diundang dengan dalih dari Pejabat AS adalah negara tersebut bukanlah anggota resmi G20.
Absennya undangan juga dialami Afrika Selatan, satu-satunya negara Afrika sekaligus salah satu negara pendiri G20 di kelompok tersebut, menyusul riwayat perselisihan dengan Pemerintahan Trump.
(tfq/fra)

