Menteri Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan kestabilan kawasan demi keberlangsungan perekonomian dunia dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri (FMM) G20 di Atlanta, Amerika Serikat.
"Dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri (FMM) G20 di Atlanta, saya menegaskan bahwa tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa perdamaian dan stabilitas," ujar Arrmanatha melalui akun Instagram miliknya, Sabtu (31/10).
Arrmanatha kemudian menyoroti konflik yang terjadi di Selat Hormuz, Laut Hitam, maupun Laut Merah telah mengganggu arus perdagangan global serta mengancam ketahanan energi dan pangan dunia. Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan itu, tetapi juga berimbas luas kepada masyarakat internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konflik di Selat Hormuz, Laut Hitam, dan Laut Merah telah mengganggu perdagangan global serta mengancam ketahanan energi dan pangan duniam," ujar Arrmanatha.
Lebih lanjut, Arrmanatha mengatakan Pemerintah Indonesia mendesak G20 untuk mengambil peran aktif mencegah ketegangan di perairan strategis berkembang menjadi krisis yang lebih luas. Penguatan dialog, langkah deeskalasi, serta penghormatan terhadap hukum internasional menjadi kunci utama.
"Saya mendorong penguatan dialog, deeskalasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982. G20 harus berperan mencegah konflik maritim berkembang menjadi krisis global."
"Bagi Indonesia, laut bukan pemisah, melainkan jembatan penghubung bangsa. Menjaga keamanan jalur laut berarti menjaga ketahanan pangan dunia," ujar Arrmanatha menambahkan.
Pertemuan tingkat menteri luar negeri dari negara-negara G20 di Atlanta, Amerika Serikat, yang berlangsung sejak Jumat (30/10), sempat diwarnai ketegangan.
Situasi panas tersebut mencuat sebelum diskusi resmi dimulai. Ketegangan dipicu oleh penolakan keras atas kehadiran perwakilan Rusia dalam forum tersebut. Sejumlah pejabat Eropa bahkan mengancam akan melakukan aksi walk out ketimbang harus berada dalam satu foto dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
(tim/har)