Australia Sebut Kekuatan Militer China Ciptakan 'Tekanan' di ASEAN

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 08:30 WIB
Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menilai peningkatan kekuatan militer China menciptakan
Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menilai peningkatan kekuatan militer China menciptakan "tekanan" di kawasan Asia Tenggara. (AFP/Jean-Francois Monier)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menilai peningkatan kekuatan militer China menciptakan "tekanan" di kawasan Asia Tenggara.

Ia pun mendesak negara-negara sekutu dan mitra untuk mempererat kerja sama pertahanan guna menjaga keamanan bersama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Marles menyampaikan pernyataan tersebut kepada wartawan di sela-sela pertemuan para menteri pertahanan Asia Tenggara di Filipina pada Kamis (29/10).

"Jelas sekali kita sedang menyaksikan peningkatan kekuatan militer konvensional terbesar yang pernah dilihat dunia sejak akhir Perang Dunia Kedua dari China," kata Marles, The Straits Times.

Ia mengatakan China belum memberikan penjelasan mengenai peningkatan kekuatan militernya. Menurut Marles, kondisi tersebut menimbulkan tekanan bagi negara-negara di kawasan.

Sikap Beijing yang semakin tegas juga menjadi "tantangan" bagi Australia. Marles menegaskan negaranya bergantung pada keberlangsungan tatanan internasional berbasis aturan untuk menjaga kepentingan dan keamanan nasional.

[Gambas:Video CNN]

"Kita perlu memastikan bahwa pemahaman kita tentang aturan lalu lintas tetap berlaku, karena bagi negara kekuatan menengah seperti Australia, aturan itulah yang memberi kita kekuatan untuk bertindak," ujarnya.

China selama ini mengerahkan ratusan kapal penjaga pantai, kapal angkatan laut, dan kapal lainnya untuk berpatroli di Laut China Selatan.

Beijing mengklaim hampir seluruh wilayah perairan tersebut meskipun klaimnya bertentangan dengan putusan internasional yang menyatakan tidak ada dasar hukum.

Pada Juli, Australia juga memprotes uji coba rudal China yang berkemampuan nuklir di Pasifik Selatan. Canberra menyebut peluncuran tersebut sebagai tindakan yang "mengganggu stabilitas" kawasan.

Meningkatnya sikap agresif dan militerisasi pulau-pulau buatan di Laut China Selatan telah mendorong Australia dan Amerika Serikat memperkuat kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara Asia Tenggara.

Dalam pertemuan pada Kamis (29/10), Marles mengatakan dirinya bertemu dengan kelompok pertahanan informal yang dikenal sebagai Squad. Kelompok ini terdiri dari Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Filipina.

Keempat negara tersebut berkomitmen meningkatkan koordinasi kebijakan pertahanan.

"Saya pikir tantangan yang dihadapi di bagian dunia ini dan tekanan yang dialami dipahami dengan baik oleh keempat negara tersebut," kata Marles.

Ia menambahkan, negara-negara di kawasan perlu mempererat hubungan dengan sekutu dan negara tetangga untuk menjaga stabilitas regional.

"Sekarang adalah waktu untuk lebih mengandalkan teman dan tetangga, serta bekerja sama lebih erat untuk menjamin keamanan bersama kita," ujarnya.

Filipina, yang merupakan mitra keamanan dekat Australia, telah berulang kali terlibat dalam konfrontasi dengan China di Laut China Selatan.

Pemerintah Filipina menyatakan kehadiran kapal militer dan penjaga pantai China di wilayah sengketa hampir berlipat ganda pada September dibandingkan periode sebelumnya. Manila menyampaikan informasi tersebut pada awal Oktober.

(mge/bac)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA