Baru Kali Ini Partai Warga Arab Bisa Jadi Penentu Kursi PM Israel

CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2026 16:00 WIB
Partai-partai Arab berpeluang memegang peran penting dalam menentukan kursi Perdana Menteri baru setelah pemilihan umum Israel.
Partai-partai Arab berpeluang memegang peran penting dalam menentukan kursi Perdana Menteri baru setelah pemilihan umum Israel. (REUTERS/Jamal Awad)
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai-partai Arab berpeluang memegang peran penting dalam menentukan kursi Perdana Menteri baru setelah pemilihan umum Israel.

Untuk pertama kalinya, partai-partai tersebut diproyeksikan meraih jumlah kursi terbanyak sepanjang sejarah mereka, sehingga berpotensi memengaruhi perebutan kekuasaan antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan oposisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan penghitungan sementara Komite Pemilu Pusat Israel pada Rabu (28/10), kubu Netanyahu unggul atas oposisi setelah 50,1 persen suara telah dihitung.

Hasil tersebut menunjukkan blok Netanyahu diproyeksikan memperoleh 51 dari total 120 kursi di parlemen, Knesset. Sementara itu, blok oposisi juga diproyeksikan meraih 51 kursi dan partai-partai Arab memperoleh 18 kursi.

Angka tersebut masih dapat berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara. Namun, hasil sementara itu menunjukkan belum ada blok mencapai 61 kursi, jumlah minimum yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan mayoritas di parlemen Israel.

Dalam sistem parlementer Israel, sebuah pemerintahan membutuhkan dukungan setidaknya 61 dari 120 anggota Knesset. Karena itu, perolehan kursi partai-partai Arab dapat menjadi faktor penting dalam proses pembentukan koalisi.

[Gambas:Video CNN]

Di markas pemilihan Joint List di Nazareth, para pendukung partai Arab merayakan hasil sementara yang menunjukkan peningkatan dukungan terhadap partai-partai mereka, dikutip dari NDTV.

Pemimpin Joint List, Yousef Jabareen, memuji tingginya partisipasi pemilih Arab dalam pemilihan tersebut. Ia menyebut peningkatan partisipasi itu sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dan bersejarah dalam masyarakat Arab kita," kata Jabareen.

Warga Arab mencakup sekitar 20 persen dari pemilih Israel. Namun, tingkat partisipasi mereka dalam pemilihan umum secara tradisional lebih rendah dibandingkan warga Israel keturunan Yahudi.

Lonjakan partisipasi kali ini didorong oleh keinginan untuk mengakhiri pemerintahan koalisi sayap kanan Netanyahu. Koalisi tersebut mencakup sejumlah tokoh garis keras, antara lain Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

Suasana di markas Joint List mencerminkan penolakan pendukung terhadap pemerintahan Netanyahu. Para pendukung meneriakkan, "Ben-Gvir, pulanglah," sebagai bentuk penentangan terhadap menteri tersebut.

Jabareen mengatakan hasil sementara menunjukkan partai-partai yang dipimpin tokoh Arab dapat "membuat perbedaan".

Ia juga berjanji partainya akan memperjuangkan perlindungan masyarakat Arab dari berbagai persoalan, termasuk kejahatan, rasisme, serta penghancuran rumah dan desa.

Berdasarkan proyeksi yang beredar, Joint List dan Raam diperkirakan dapat mengamankan 17 hingga 19 kursi di Knesset. Jika tercapai, perolehan tersebut akan menjadi pencapaian tertinggi partai-partai Arab dalam sejarah pemilihan umum Israel.

Sementara itu, partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot diproyeksikan memperoleh 21 hingga 23 kursi.

(bac/mge/bac)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA