Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, 'bangkit' ke publik dengan mengeluarkan pernyataan terbaru berisikan pesan-pesan soal perang melawan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya pada Selasa (27/10), Khamenei melayangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi jika mau perang berakhir. Pernyataan itu muncul di tengah upaya diplomatik sejumlah negara untuk mencegah konflik baru di kawasan Teluk Persia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khamenei menekankan pentingnya penerapan syarat yang telah ditetapkan para pejabat Iran untuk mengakhiri perang sekaligus mengakhiri situasi saat ini yang disebutnya sebagai kondisi "bukan perang maupun damai".
Pernyataan tersebut disampaikan Khamenei saat bertemu dengan pejabat keamanan nasional Iran, Mohsen Rezaee, dan disiarkan oleh media pemerintah Iran.
Sebelumnya, Iran menyatakan AS harus mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia dan mencabut sanksi sebagai prasyarat untuk memulai perundingan perdamaian. Sementara itu, Washington mendesak Teheran memberikan konsesi terkait program nuklirnya.
Pernyataan Khamenei muncul ketika sejumlah negara meningkatkan upaya diplomatik untuk mencegah serangan balasan AS-Israel terhadap Iran. Upaya tersebut juga berlangsung di tengah meningkatnya konflik di Yaman antara Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Sejak Minggu (25/10), Teheran telah menerima delegasi dari Qatar, yang berperan sebagai mediator utama dengan AS. Iran juga menggelar pertemuan dengan pejabat keamanan tinggi dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
China turut mengambil langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan. Pada Selasa (27/100 Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah mengirim utusan khusus ke kawasan tersebut untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Selain membahas perang, Khamenei dan Rezaee juga membicarakan upaya menjaga keamanan nasional dan regional melalui pengawasan terhadap Selat Hormuz, demikian pernyataan yang diunggah di Telegram pada Selasa (27/10).
Perselisihan mengenai selat tersebut menyebabkan runtuhnya gencatan senjata terakhir antara Iran dan AS pada Juni.
Teheran bersikeras mempertahankan kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pasokan energi global.
Sebaliknya, AS menginginkan kebebasan pelayaran di selat tersebut kembali dipulihkan. Kedua negara juga masih berselisih mengenai program nuklir Iran, termasuk persoalan apakah Teheran boleh memperkaya uranium.
Di tengah ketegangan tersebut, kondisi Khamenei turut menjadi perhatian. Pemimpin tertinggi Iran itu belum muncul di hadapan publik sejak awal perang, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kondisinya dan perannya dalam pengambilan keputusan negara.
Pada Selasa (27/10), Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Khamenei berada dalam kondisi kesehatan yang baik dan tetap memegang kendali penuh atas urusan dalam negeri maupun luar negeri Iran. Ghalibaf mengatakan dirinya bertemu dengan Khamenei pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melakukan serangkaian pertemuan dengan para pemimpin dan pejabat senior di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Forum Negara-Negara Pengekspor Gas di Moskow, Rusia.
Pezeshkian antara lain bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani serta Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Selasa (27/10).
Dalam pertemuan dengan Putin, Pezeshkian menyatakan negara-negara di Timur Tengah seharusnya mampu menyelesaikan persoalan kawasan tanpa campur tangan AS.
"Saya yakin kita mampu menyelesaikan masalah kita di kawasan ini tanpa bergantung pada Amerika Serikat," kata Pezeshkian, seperti dilaporkan The Straits Times.
Ia juga menilai tindakan AS di kawasan tersebut mendorong Iran dan Rusia memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain yang menghadapi sanksi sepihak Washington.
"Perdagangan kita berkembang dan tumbuh dari hari ke hari. Tindakan AS di kawasan ini mempermudah kita untuk bergerak menuju multilateralisme yang lebih besar dan memperkuat kerja sama kita dengan Anda dan negara-negara lain yang dikenai sanksi unilateral AS," ujarnya kepada Putin.
Putin mengatakan dirinya telah membahas situasi konflik di kawasan Timur Tengah bersama Pezeshkian. Ia berharap kondisi di kawasan tersebut dapat "berkembang ke arah yang positif".
"Kami tadi berbicara secara empat mata tentang situasi di wilayah tersebut, sebuah situasi yang tanpa diragukan lagi pasti menimbulkan kekhawatiran," kata Putin.
Pezeshkian juga menyatakan keyakinannya bahwa Iran dan Rusia memiliki peluang untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang, termasuk sains, industri, kebudayaan, keamanan, dan militer.
(mge/rds)


