Presiden petahana Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva (Lula da Silva), memenangkan pemilihan presiden setelah mengalahkan Flavio Bolsonaro, dalam putaran kedua yang digelar Minggu (25/10).
Pemimpin sayap kiri tersebut menang tipis dengan perolehan 51,7 persen suara, mengalahkan Flavio Bolsonaro, yang merupakan putra dari pendahulu Lula yakni mantan presiden Jair Bolsonaro, yang memperoleh 48,2 persen suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan bersejarah ini menjadikan pemimpin sayap kiri berusia 80 tahun itu sebagai presiden Brasil pertama yang terpilih untuk keempat kalinya.
Lula telah memimpin Brasil selama tiga periode yakni periode 2003-2006, periode 2007-2010, dan 2023 sampai sekarang.
Hasil ini juga menandai pertama kalinya seorang kandidat berhasil memenangkan kursi kepresidenan, setelah menempati posisi kedua di pemilu putaran pertama.
Profil Lula da Silva
Lula lahir sebagai anak ke tujuh dari delapan bersaudara pada Oktober 1945 dari kedua orang tua yang bekerja sebagai petani di Caetes, Pernambuco, Brasil.
Semasa muda, Lula dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. Ia pernah bekerja sebagai tukang semir sepatu, pedagang kaki lima, perajin logam di sebuah pabrik, hingga sempat tinggal di tempat yang mirip kandang babi.
"Di tengah malam [pemabuk] akan datang untuk kencing atau muntah. Saat hujan, tikus dan katak terseret air dan masuk ke tempat itu, dan keesokan harinya mereka harus membersihkan semua," demikian kata Fernando Morais, dalam buku Back In to Politic yang berisi perjalanan Lula da Silva.
Lula kemudian beralih profesi menjadi office boy. Setelahnya, ia mengikuti pelatihan operator mesin bubut selama awal 1960-an. Ketika itu, Brasil dalam genggaman kediktatoran militer.
Saat itu, seorang agen dari partai Komunis bawah tanah Brasil mencoba merekrut Lula masuk politik. Namun, ia tak menyambut ajakan tersebut.
Tahun 1975, menjadi masa titik balik bagi Lula. Ia semakin geram usai saudara laki-lakinya diculik dan disiksa pasukan keamanan dan mulai mempertimbangkan aktif di politik.
Kemudian pada 1979, ia menjadi semakin aktif dalam gerakan buruh. Lula memimpin serangkaian pemogokan bersejarah, dan menjadikan dia sebagai pemimpin serikat buruh paling terkenal di Brasil.
Langkah itu ternyata menjadi jalan Lula membentuk Partai Buruh (PT), partai yang ia pimpin hingga sekarang.
Nyaris satu dekade kemudian, tepatnya pada 1989, Lula mencalonkan diri menjadi presiden Brasil, tetapi gagal. Ia terus mencoba hingga 1998, dan masih menuai hasil yang sama: gagal.
Kemudian pada 2002, ia berhasil menjadi presiden Brasil. Dalam kesempatan ini, Lula membantu jutaan warga arga keluar dari kemiskinan dan menjadikan negara ini jadi salah satu bagian penting di kancah global.
Lula kemudian meninggalkan kursi kepresidenan pada 2010. Namun, tahun-tahun berikutnya adalah dekade brutal bagi kaum kiri dan partainya.
PT terlibat dalam serangkaian skandal korupsi yang meluas. Organisasi ini juga dituding menjadi penyebab Brasil masuk ke jurang resesi.
Pengganti Lula, Dilma Rousseff, dimakzulkan pada 2016 dalam "kudeta" politik.
Pada 2018, Lula divonis penjara 12 tahun atas kasus pencucian uang dan korupsi. Saat itu, ia bahkan sedang mencalonkan diri dalam pilpres Brasil hingga menyebabkannya didiskualifikasi.
Dikutip Anadolu Agency, Lula da Silva menghabiskan 580 hari di penjara sebelum dibebaskan pada 2019 setelah Mahkamah Agung menganulir vonis pengadilan.
Keputusan Mahkamah Agung Brasil itu pun memulihkan hak politik Lula.
(rds)

