Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dan politikus sayap kanan Flavio Bolsonaro terlibat debat sengit dua hari menjelang pemilu putaran kedua.
AFP dan Reuters melaporkan kedua tokoh saling menyerang secara pribadi dalam debat pada Jumat (23/10) yang diselenggarakan saluran televisi Globo.
Lula, yang berupaya mengamankan masa jabatan keempatnya, awalnya membela kebijakan pemerintahannya dalam menaikkan upah minimum di atas tingkat inflasi. Ia juga menegaskan bahwa pemerintahannya telah membantu jutaan rakyat Brasil terbebas dari kelaparan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu, sang Presiden kemudian mencemooh bahwa rivalnya, Flavio Bolsonaro, tak pernah merasakan kelaparan karena tinggal berkecukupan sedari kecil.
Ia juga menyebut Flavio ibarat anak sekolah yang sedang belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi tapi tidak benar-benar memahaminya.
Flavio merupakan anak dari Jair Bolsonaro, mantan Presiden Brasil yang berkuasa dari 2019 hingga 2023. Flavio juga selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Presidan AS Donalad Trump.
Merespons Lula, Flavio mengatakan bahwa harga pangan di bawah pemerintahan Lula naik gila-gilaan sampai mencekik warga. Ia juga mengkritik reformasi pajak yang disetujui Lula, dengan memprediksi bahwa aturan tersebut akan meningkatkan beban pajak bagi konsumen.
"Lula bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia belanja bahan makanan karena sekarang dia tinggal di istana mewah," ucap Flavio, seperti dikutip Reuters.
Kedua kandidat juga bersitegang saat bicara dalam sesi nonmoderator. Lula dan Flavio berusaha mengaitkan satu sama lain dengan penipuan yang melibatkan Banco Master.
Lula mendesak Flavio mengaku soal keterkaitannya dengan bankir yang dipenjara, Daniel Vorcaro. Sedangkan Flavio menyenggol Lula dengan tuduhan yang melibatkan putranya dan penipuan dana pensiun.
Lula dan Flavio Bolsonaro akan mengikuti pemilu putaran kedua pada Minggu (25/10) esok. Hasil pemilu pertama pada 4 Oktober menunjukkan kemenangan tipis bagi Flavio, yang mengantongi 47 persen suara, sedangkan Lula 45 persen.
Namun, hasil ini belum bisa mengamankan suara mayoritas yang dibutuhkan.
Sejak putaran pertama, kedua kandidat saling melempar hinaan dan tuduhan, terutama terkait korupsi.
Isu intervensi asing juga menjadi tema kampanye sehari-hari mereka, salah satunya Lula menuduh Meta membatasi aktivitas pendukungnya secara online guna mendukung dinasti Bolsonaro.
(blq/sur)

