Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat telah memerintahkan pegawai pemerintah yang tidak mendesak (non-esensial) beserta anggota keluarga mereka, untuk meninggalkan perwakilan AS di Arab Saudi. Perintah tersebut seiring dengan meningkatnya serangan dari milisi Houthi ke Saudi.
"Kelompok Houthi yang didukung Iran semakin sering melakukan tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan ke bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya, yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil serta gangguan perjalanan yang parah," kata juru bicara Kemlu AS, Tommy Pigott.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keselamatan dan keamanan personel Kemlu beserta keluarga mereka tetap menjadi prioritas utama kami, dan kami akan terus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi serta mendukung mereka," imbuhnya, dikutip Al Jazeera.
Dalam pernyataan yang sama Pigott menyatakan bahwa laporan sebelumnya soal rencana AS memulangkan sebagian personel dari kedutaan-kedutaan besar AS di kawasan Teluk, adalah "tidak akurat".
Selain di Saudi, empat pejabat AS yang tak disebutkan namanya mengatakan misi AS di negara-negara Teluk lainnya juga akan memerintahkan anggota keluarga staf untuk pergi.
Sebelumnya AS sempat menempatkan kembali sejumlah personel diplomatik di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir, setelah menarik banyak staf saat Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas miik AS.
Penarikan terbaru ini terjadi di tengah eskalasi pertempuran di Yaman, yang membuka front baru dalam konflik regional yang dipicu perang tersebut.
Pada Rabu (21/10), Kedutaan Besar AS di Riyadh mengeluarkan peringatan keamanan mengenai kemungkinan serangan lanjutan oleh Houthi terhadap Saudi.
Kedutaan besar tersebut, yang juga menampung kantor perwakilan CIA, sempat diserang oleh drone pada awal Maret, saat Iran mulai melancarkan berbagai serangan di seluruh kawasan tersebut.
(dna)

