Singapura buka suara terkait respons Indonesia tentang masalah kabut asap yang memburuk imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia.
Menteri Penerangan dan Pembangunan Digital Merangkap Kesehatan Singapura, Rahayu Nahzam, mengatakan negaranya tidak bisa terus menerus menerima pencemaran udara "yang begitu parah" imbas "pembakaran hutan dan lahan secara ilegal".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini merupakan masalah akibat ulah manusia yang sebenarnya dapat dicegah," kata Rahayu kepada wartawan seperti dikutip Berita Harian pada Selasa (20/10).
"Kita tidak bisa terus-menerus menerima pencemaran udara yang begitu parah. Kita juga kecewa dengan komentar yang menyebutkan bahwa Singapura harus menerima jerebu (kabut asap) karena selama ini menghirup oksigen yang dihasilkan oleh hutan Indonesia. Pernyataan seperti ini tidak dapat kita terima," paparnya menambahkan.
Pernyataan Rahayu itu merujuk pada pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom) Syahganda Nainggolan baru-baru ini.
Syahganda memberikan tanggapan terkait asap karhutla yang telah menyelimuti negara tetangga Malaysia dan Singapura pada 10 Oktober lalu. Dia berbicara bahwa oksigen dari kedua negara itu berasal dari Indonesia.
"Jadi, kita juga minta kepada semua tetangga kita untuk mengerti ini adalah di luar beyond human error, ini betul-betul alam," ujar Syahganda.
"Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya enggak ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita (Indonesia)," paparnya menambahkan.
Selain Rahayu, Menteri Dalam Negeri Singapura K Shanmugam juga turut berkomentar terkait pernyataan Syahganda tersebut.
Menurutnya, pernyataan itu tidak tepat diutarakan di tengah kondisi dan persoalan kabut asap karhutla RI.
"Terus terang, pernyataan tersebut tidak tepat, mengingat seluruh kawasan ini sedang menderita akibat ulah perusahaan-perusahaan yang melanggar peraturan di Indonesia. Ironisnya, pihak yang paling menderita justru adalah rakyat Indonesia sendiri," kata K Shanmugam, dilansir Channel News Asia, Senin (19/10).
Lebih lanjut, Rahayu menegaskan Singapura berupaya bersama-sama mengatasi kabut asap ini.
Ia juga menuturkan Singapura menyambut baik kesungguhan Presiden Prabowo dan pemerintah Indonesia dalam menangani kebakaran hutan Indonesia ini.
"Singapura telah menawarkan bantuan dan siap bekerja sama untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama. Tujuan kita sama. Kita ingin kebakaran dihentikan, kesehatan masyarakat kita terlindungi, dan masalah jerebu ini tidak terus berulang," papar Rahayu.
Rahayu juga menegaskan Perdana Menteri Lawrence Wong telah menginstruksikan pemerintah agar mengambil langkah yang lebih tegas dalam menangani asap karhutla RI ini.
Ia menuturkan pemerintah Singapura juga telah mulai mengirimkan pemberitahuan kepada perusahaan-perusahaan yang diduga memiliki keterkaitan dengan kebakaran hutan.
"Selain itu, kita tengah mengkaji berbagai langkah melalui jalur hukum, ekonomi, dan regulasi, termasuk yang berkaitan dengan hubungan perdagangan dan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat," ujar Rahayu.
(rds)

