Prancis Rusuh, Trump-Netanyahu Salahkan Muslim & 'Kompori' Macron

imf | CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 11:00 WIB
U.S. President Donald Trump welcomes Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu at the White House in Washington, D.C., U.S., September 29, 2025. REUTERS/Jonathan Ernst
Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kompak menyalahkan kelompok imigran muslim dalam demo yang terjadi di Prancis.

Donald Trump bahkan mengejek bahwa Paris akan segera menjadi Kota Muslim dan menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat kesalahan dengan mengizinkan imigran masuk ke negara itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulu pernah besar ini!" kata Trump tanpa menunjukkan bukti sedikit pun.

Hal yang sama dilakukan oleh sekutunya, Benjamin Netanyahu. Dalam wawancaranya dengan media Prancis, Netanyahu menuding para pemimpin Prancis gagal mengantisipasi kerusuhan.

Ia mengklaim bahwa gejolak tersebut dipicu oleh kelompok ekstremis Islam, meskipun masyarakat Prancis yang turun ke jalan di berbagai kota besar, termasuk ibu kota Paris, terdiri atas beragam kelompok.

"Mereka (Prancis) tidak melakukan persiapan tepat waktu dan begitu saja menyerah. Mereka tunduk pada invasi Islam ekstremis," kata Netanyahu dalam wawancaranya bersama media Prancis iNews24, Selasa (20/10).

[Gambas:Video CNN]

Dikutip AFP, Netanyahu mengatakan Prancis harus "lawan balik, jangan menerapkan kebijakan akomodasi terhadap mereka-lawan kelompok ekstremis", ketika ditanya saran apa yang akan ia berikan kepada Prancis untuk menghadapi situasi ini.

Sama seperti Trump, Netanyahu pun tidak memberikan bukti.

Jelang Pemilu

Pernyataan kedua pemimpin sayap kanan itu, dilontarkan saat keduanya sedang menghadapi pemilu di negara masing-masing. Amerika Serikat akan menghadapi pemilu sela pada 3 November mendatang dan Israel pada 27 Oktober.

Pemilihan umum paruh waktu di AS akan diperebutkan 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 35 dari 100 kursi Senat, serta 39 pemilihan gubernur.

Pemilihan paruh waktu ini akan menjadi ujian besar bagi dua partai politik yang sedang dalam masa transisi dan agenda masa jabatan kedua Presiden Trump.

Hasilnya akan membentuk keseimbangan kekuasaan di Washington, memengaruhi kemampuan pemerintahan untuk memerintah, seberapa besar pengaruh yang akan dimiliki anggota parlemen oposisi, dan risiko apa yang ada di antaranya, dikutip dari laman Chatam House. Sementara popularitas Trump terus anjlok, dengan tingkat persetujuan hanya 31%.

Hasil survei Reuters/Ipsos ini muncul menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada 3 November, ketika Partai Republik terancam kehilangan kendali atas Kongres AS.

Sementara di Israel, Netanyahu pun menghadapi pemilu yang akan menentukan nasibnya di masa mendatang.

Pemilu tersebut secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sejak dimulainya perang, yang menyebabkan genosida di Gaza.

Netanyahu, perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, telah mengonfirmasi pada Juni lalu bahwa ia akan kembali mencalonkan diri dalam pemilu mendatang.

Politikus berusia 76 tahun itu menghadapi kritik yang terus meningkat sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina hingga hari ini telah menewaskan lebih dari 75 ribu warga sipil.

Sejumlah survei terbaru yang dikutip Al Jazeera memperkirakan Partai Likud pimpinan Netanyahu hanya akan memperoleh sekitar 20 hingga 22 kursi pada pemilu mendatang.

Sebagian pemilih yang sebelumnya mendukung Netanyahu diperkirakan beralih kepada partai oposisi atau kelompok kanan dengan pandangan yang lebih tegas.

(bac)
placeholder