Update Terbaru Misteri Pesawat Amelia Earhart Hilang 89 Tahun Lalu

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 10:40 WIB
Ekspedisi terbaru untuk mencari pesawat Amelia Earhart yang hilang 89 tahun lalu di Samudra Pasifik belum membuahkan hasil.
Ekspedisi terbaru untuk mencari pesawat Amelia Earhart yang hilang 89 tahun lalu di Samudra Pasifik belum membuahkan hasil. (AFP PHOTO / FILES)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekspedisi terbaru untuk mencari pesawat Amelia Earhart yang hilang 89 tahun lalu di Samudra Pasifik belum membuahkan hasil.

Tim peneliti yang menyisir Pulau Nikumaroro di Pasifik Selatan tidak menemukan "bukti meyakinkan" bahwa pesawat yang membawa penerbang legendaris Amerika Serikat itu pernah mendarat di pulau tersebut.

Tim gabungan yang dipimpin Archaeological Legacy Institute (ALI) dan Universitas Purdue mengumumkan hasil ekspedisi mereka pada Senin (19/10). Sebanyak 17 peneliti dan teknisi tiba di Pulau Nikumaroro pada 12 Oktober.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut bertujuan untuk menyelidiki objek misterius di sebuah laguna yang diduga sebagai puing-puing pesawat Earhart. Objek itu dikenal sebagai Objek Taraia itu pertama kali terdeteksi melalui citra satelit pada 2020.

Pemimpin ekspedisi sekaligus arkeolog, Rick Pettigrew, menduga objek tersebut merupakan bagian dari pesawat Lockheed 10E Electra yang diterbangkan Earhart saat menghilang pada 1937.

Namun, hasil pemeriksaan di lokasi tidak mendukung dugaan tersebut. Universitas Purdue menyatakan tim "tidak menemukan bukti konklusif" yang mengonfirmasi keberadaan pesawat Earhart di laguna Pulau Nikumaroro.

Tim peneliti menduga objek yang terlihat dalam citra satelit tersebut merupakan kumpulan pohon besar yang terbawa dan mengendap di sepanjang gosong pasir semenanjung. Saat tim tiba, sebagian besar material itu telah hancur dan hanyut.

Meski demikian, direktur eksekutif ALI, Pettigrew, menegaskan kegagalan mengidentifikasi objek tersebut tidak serta-merta menggugurkan dugaan bahwa Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, pernah terdampar di pulau terpencil itu.

"Bukti untuk hipotesis orang terdampar, yang membawa kita ke sini, tetap sangat, sangat kuat," kata Pettigrew dalam pernyataan video.

"Kami pikir sangat mungkin Amelia dan navigatornya, Fred Noonan, memang terdampar di Pulau Nikumaroro ini," lanjut Pettigrew.

Penasihat umum dan anggota tim lapangan Universitas Purdue, Steve Schultz, juga mengatakan bahwa hasil ekspedisi tersebut tidak menghilangkan bukti lain yang mendukung hipotesis tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Misteri hilangnya Amelia Earhart

Amelia Earhart dan Fred Noonan menghilang pada 2 Juli 1937 saat berusaha menyelesaikan penerbangan keliling dunia. Earhart berambisi menjadi perempuan pertama yang terbang mengelilingi dunia.

Keduanya terakhir kali terlihat lepas landas dari Lae, Papua Nugini, untuk menempuh perjalanan sekitar 18 jam menuju Pulau Howland, sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik.

Saat menghilang, Earhart telah menempuh sekitar 22.000 mil atau 35.405 kilometer. Ia masih harus terbang sekitar 7.000 mil atau 11.265 kilometer untuk menyelesaikan perjalanan tersebut.

Hilangnya Earhart mungkin merupakan misteri paling menarik dalam sejarah penerbangan. Selama beberapa dekade sejarawan dan peneliti telah memperdebatkan bagaimana dan ke mana ia menghilang.

Pendapat utama dari pencarian besar-besaran yang dipimpin pemerintah AS setelah hilangnya Earhart, menunjukkan bahwa Earhart dan Noonan kehabisan bahan bakar. Pendapat utama itu juga menyebut pesawat mereka jatuh ke Samudra Pasifik di dekat tujuan yang mereka tuju.

Namun, pendapat lain menyebut Earhart dan Noonan mungkin mendarat di Pulau Nikumaroro, sekitar 644 kilometer di selatan Pulau Howland. Menurut pendapat ini, keduanya bertahan hidup sebagai orang terdampar sebelum akhirnya meninggal akibat kehausan atau kelaparan.

Pulau Nikumaroro kini menjadi bagian dari Republik Kiribati. Pulau tak berpenghuni tersebut dikelilingi terumbu karang dan berada di lokasi terpencil di Pasifik Selatan. Tim ekspedisi terbaru bahkan membutuhkan waktu lima hari perjalanan laut dari Tarawa, ibu kota Kiribati, untuk mencapai pulau itu.

Pencarian berulang

Ekspedisi terbaru ini menambah panjang daftar pencarian pesawat Earhart yang berakhir tanpa hasil pasti.

Pakar Earhart sekaligus mantan kurator Smithsonian National Air and Space Museum di Washington, Dorothy Cochrane, mengatakan Pulau Nikumaroro telah disisir "lebih dari 15 kali". Namun, berbagai ekspedisi tersebut belum menemukan bukti nyata keberadaan pesawat, Earhart, maupun Noonan di pulau itu.

Pada 2024, perusahaan eksplorasi laut Deep Sea Vision mendeteksi objek menyerupai pesawat melalui citra sonar di kawasan laut sekitar 160 kilometer dari Pulau Howland. Setelah diperiksa lebih lanjut, objek tersebut ternyata merupakan formasi bebatuan.

Ekspedisi lain yang dipimpin ahli oseanografi Bob Ballard pada 2019 juga tidak berhasil menemukan pesawat Earhart di sekitar Nikumaroro. Ballard dikenal sebagai peneliti yang menemukan bangkai kapal Titanic pada 1985.

Dalam ekspedisi terbaru, tim Universitas Purdue dan ALI menggunakan magnetometer untuk mendeteksi benda berbahan besi. Mereka juga memanfaatkan teknologi sonar untuk mencari objek yang tertimbun sedimen di dasar laguna.

Pettigrew mengatakan tim telah mencapai tujuan utama mereka, yakni menguji dugaan bahwa objek Taraia merupakan bagian dari pesawat Earhart. Meski dugaan tersebut tidak terbukti, tim tetap mempertahankan kemungkinan bahwa Earhart dan Noonan pernah terdampar di Nikumaroro.

Pencarian pesawat Earhart kemungkinan belum berakhir. Perusahaan eksplorasi laut dalam Nauticos tengah berupaya mengumpulkan dana sebesar US$8 juta hingga US$10 juta untuk membiayai ekspedisi berikutnya di perairan sekitar Pulau Howland.

Perusahaan tersebut berencana mempersempit area pencarian dengan memanfaatkan informasi baru dari eksperimen yang menggunakan replika sistem radio Earhart. Nauticos sebelumnya telah melakukan tiga ekspedisi pencarian di dekat Pulau Howland sejak 2002.

Universitas Purdue memiliki hubungan historis dengan penerbangan Earhart. Purdue Research Foundation pernah mendanai pesawat Lockheed Electra miliknya. Earhart juga berencana mengembalikan pesawat tersebut ke universitas setelah menyelesaikan penerbangan keliling dunia.

(mge/bac)
placeholder