Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kesal bahwa Israel dicap sebagai penjajah di tanah Palestina.
Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Obama salah satu pemimpin dunia yang terang-terangan menyebut Israel mencuri tanah Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Netanyahu kemudian membalas kecaman Obama yang menyebut Israel telah merampas hak-hak bangsa lain di Palestina.
"Saya mendengar pernyataan yang amat disayangkan yang mengatakan bahwa Israel telah mencuri tanah, Israel telah kehilangan moral tertinggi. Saya akan merespons ini," ujar Netanyahu dalam akun X miliknya,
"Orang-orang Yahudi bukan penjajah asing di tanah moyang kami. Sejarah kami bukan sejarah kolonial. Tanah kami bukan hasil curian. Ini tanah air kami yang disebut Judea," kata Netanyahu.
Ia kemudian kembali menegaskan klaimnya bahwa tanah di Palestina merupakan milik bangsa Yahudi sejak ribuan tahun lalu.
"Kami bukan Belanda di Indonesia. Kami bukan Belgia di Kongo. Kami orang-orang Yahudi di tanah Yudea," tutur Netanyahu.
"Akan saya katakan hal lain. Penghambat perdamaian bukan Israel. Bukan perjuangan kami untuk hal paling mendasar mengenai eksistensi negara kami sendiri. Tapi penolakan musuh-musuh kami, musuh-musuh Amerika, untuk mengakui hak orang-orang Yahudi memiliki negara sendiri dalam batas apapun," ujarnya lagi.
Pada pekan lalu, Obama mengkritik cara Israel menangani konflik di Timur Tengah, dikutip dari Anadolu Agency.
Ia juga memperingatkan bahwa kekuatan militer tidak dapat menjamin keamanan yang langgeng, dan bahwa keengganan untuk memberikan konsesi kepada pihak Palestina berisiko merusak posisi moral Israel.
Obama mengakui sejarah panjang persekusi yang dialami oleh orang-orang Yahudi di Eropa. Namun, ia juga menekankan bahwa rakyat Palestina telah mengalami ketidakadilan akibat hilangnya tanah mereka.
"Hal itu tidak dapat disangkal. Yang juga tidak dapat disangkal adalah bahwa mereka mengambil tanah milik orang lain dan bertindak secara berlebihan. Wajar jika orang-orang tersebut berkata: 'Ini adalah ketidakadilan dan saya ingin tanah saya kembali,'" ujarnya.
(bac)


