PBB Sebut Asia Tenggara Hadapi Kabut Asap Terburuk Imbas Karhutla RI

CNN Indonesia
Sabtu, 17 Okt 2026 18:45 WIB
People paddle kayaks in Singapore on October 15, 2026, as the country continues to be shrouded in haze caused by fires in Indonesia. Toxic haze has covered parts of Indonesia, Malaysia and Singapore for weeks as Jakarta struggles to contain fires tha
Langit Singapura dikepung asap karhutla. Foto: AFP/FELINE LIM
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO), menyebut Asia Tenggara mengalami kabut asap terburuk buntut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Direktur regional WMO untuk Asia dan Pasifik Ben Churchill menyampaikan pernyataan itu saat wawancara dengan media Singapura Straits Times, yang dirilis Sabtu (17/10).

"Menurut saya, peristiwa yang sedang kita alami saat ini merupakan salah satu kejadian kabut asap lintas batas yang paling parah-bahkan mungkin yang terburuk-yang berdampak ke Singapura, Malaysia, Filipina, dan negara-negara lain," kata Churchill.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya memperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut," imbuhnya.

Churchill berharap situasi ini bisa segera mereda dan transisi musim segera tiba. Menurut dia, terlepas dari upaya pemadaman yang dilakukan Indonesia seperti pengerahan pasukan, rekayasa cuaca, curah hujan juga penting.

"Karena satu-satunya hal yang akan memadamkan kebakaran di Indonesia-terlepas dari berbagai upaya, pengerahan tenaga, penggunaan teknologi, serta dukungan internasional-adalah curah hujan yang turun dalam durasi lama dan berkelanjutan di lokasi kebakaran."

Di kesempatan tersebut, Churchill juga membandingkan kebakaran hutan dan lahan saat melanda Australia. Dia mengatakan saat karhutla terjadi dan sumber daya tak cukup atau terkuras, pemerintah akan mendatangkan bantuan.

Bantuan ini bisa berupa peralatan, helikopter, pesawat pemadam kebakaran, hingga kru yang menyertainya.

"Model ini bisa dipertimbangkan dalam konteks ASEAN, yakni melalui penggabungan sumber daya serta investasi pada peralatan pemadam kebakaran yang bisa digunakan negara mana pun sesuai dengan kebutuhan," ucap Churchill.

Direktur badan iklim PBB ini juga mengingatkan kebakaran hutan dan lahan bisa terjadi di mana saja, menimpa negara mana saja, dan kapan saja. Ini didorong pemasangan global yang kian memburuk karena fenomena El Nino.

"Oleh karena itu, menurut saya, hal ini patut dipertimbangkan oleh para menteri ASEAN," ungkap Churchill.

"Cara terbaik untuk memadamkan kebakaran bukanlah dengan menanganinya sendirian, melainkan melalui kerja sama internasional dengan memanfaatkan teknologi dan pengalaman, serta melibatkan ahli prakiraan cuaca yang mampu memprediksi kondisi cuaca terkait kebakaran dan api di lapangan," imbuh dia.

Pertengahan pekan ini, pemerintah Indonesia menyatakan setuju menerima bantuan dari negara-negara tetangga untuk mengatasi karhutla.

Sejumlah wilayah di Indonesia terbakar sejak beberapa bulan lalu. Dampaknya kabut asap turut menyelimuti negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

Pada Rabu, kualitas udara di Singapura masuk kategori tak sehat bahkan pada pukul 15.00 indeks polisi udara mencapai 288, tertinggi sejak 2015. Malaysia bahkan pernah mencatat indeks polusi udara dalam kategori bahaya di negara bagian Serawak bulan lalu.

(isa/dna)