Bikin Hoaks Kuburan Anak di Atap Rumah, Pria di China Ditangkap

CNN Indonesia
Jumat, 16 Okt 2026 10:25 WIB
Polisi China tagkap pria 73 tahun setelah menyebarkan cerita bohong tentang kuburan anak laki-laki di atap sebuah kompleks perumahan di Chengdu.
Polisi China tagkap pria 73 tahun setelah menyebarkan cerita bohong tentang kuburan anak laki-laki di atap sebuah kompleks perumahan di Chengdu. (iStockphoto/LukaTDB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi China menjatuhkan sanksi administratif kepada pria 73 tahun setelah menyebarkan cerita bohong tentang kuburan anak laki-laki di atap sebuah kompleks perumahan di Chengdu, Provinsi Sichuan.

Hasil pemeriksaan polisi menunjukkan tulang-tulang yang ditemukan di lokasi tersebut berasal dari hewan, bukan manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus ini bermula ketika seorang perempuan bernama Li mengaku menemukan benda yang menyerupai kuburan di atap gedung tempat tinggalnya.

Pada 5 Oktober, Li menceritakan penemuan tersebut kepada media lokal Sichuan Observation.

Li membeli sebuah apartemen bekas di lantai tujuh pada 2017 dan menyewakannya sejak saat itu. Namun, seorang tetangga baru-baru ini memberitahunya bahwa atap gedung tersebut menjadi tempat pemakaman seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun.

Menurut cerita tetangganya, anak itu tinggal di gedung tersebut dan meninggal karena sakit pada September 2009.

[Gambas:Video CNN]

Li kemudian memeriksa lokasi dan merekam benda-benda yang tampak seperti tulang, termasuk gigi, di bawah tumpukan batu dan rerumputan. Ia lalu melaporkan temuan tersebut kepada polisi.

Li menduga pemilik sebelumnya sengaja menyembunyikan keberadaan makam tersebut karena khawatir hal itu akan menurunkan nilai properti. Ia berusaha meminta pertanggungjawaban penjual, tetapi tidak berhasil menghubunginya.

Cerita tersebut kemudian memicu kehebohan di media sosial China. Sejumlah video terkait penemuan itu menarik jutaan penonton.

"Ini mengerikan. Seberapa pun Anda merindukan anak Anda, Anda seharusnya memberikan mereka pemakaman yang layak, bukan mengubur mereka di atas atap," tulis seorang pengguna media sosial, seperti dilaporkan South China Morning Post.

Pengguna lain memperingatkan bahwa dugaan keberadaan makam tersebut dapat meresahkan warga dan memengaruhi harga properti di kawasan itu.

"Jika benar, ini bisa membuat warga resah dan menyebabkan harga properti anjlok," tulis yang lain.

Seorang pengacara juga menjelaskan bahwa penguburan di luar pemakaman yang telah ditentukan melanggar aturan di China. Jika penjual terbukti sengaja menyembunyikan keberadaan makam, Li dapat berupaya membatalkan transaksi properti dan menuntut ganti rugi.

Namun, penyelidikan polisi justru mengungkap fakta berbeda.

Pada 8 Oktober, polisi memastikan bahwa lokasi tersebut bukan kuburan manusia, melainkan hamparan bunga yang berisi sisa-sisa hewan. Petugas juga tidak menemukan batu nisan, guci, ataupun benda lain yang berkaitan dengan pemakaman.

Hasil pemeriksaan menunjukkan fragmen tulang di lokasi tersebut berasal dari hewan ternak atau unggas. Sementara itu, gigi yang ditemukan di antara tulang-tulang tersebut teridentifikasi sebagai gigi ikan.

Polisi kemudian memeriksa catatan kematian dan mewawancarai sejumlah warga untuk memastikan kebenaran cerita tentang anak laki-laki yang disebut-sebut dimakamkan di atap perumahan.

Dari hasil penyelidikan, polisi menyimpulkan bahwa cerita tentang makam anak tersebut merupakan rumor yang berasal dari seorang tetangga berusia 73 tahun bernama Liu. Motif Liu menyebarkan cerita itu masih belum jelas.

Liu kemudian menerima sanksi administratif atas penyebaran rumor tersebut.

Berdasarkan hukum China, penyebaran rumor dapat dikenai hukuman penahanan hingga 10 hari dan denda sebesar 500 yuan atau sekitar US$75. Dalam kasus serius yang mengganggu ketertiban umum, pelaku dapat menghadapi hukuman penjara hingga tujuh tahun.

Kasus ini memicu peringatan dari sejumlah pengguna media sosial agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi sensasional yang belum terbukti kebenarannya.

"Baik didorong oleh dendam pribadi atau keinginan untuk menarik perhatian, menyebarkan rumor adalah tindakan bodoh dan memalukan," tulis seorang pengguna daring.

Pengguna tersebut mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai cerita yang menyerupai legenda urban atau ikut menyebarkan informasi keliru dengan menambahkan klaim yang belum terverifikasi.

"Jangan percaya begitu saja pada legenda urban yang sensasional atau menambah penyebaran informasi yang salah dengan melebih-lebihkan apa yang Anda dengar," tulisnya.

(mge/bac)
placeholder