AS Ogah Bantu Saudi, Tapi Diam-diam Bikin Kesepakatan dengan Houthi

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 15:50 WIB
Serangan Houthi ke Arab Saudi.
Serangan Houthi ke Arab Saudi. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan milisi Houthi Yaman ke Bandara dan pangkalan minyak di Arab Saudi terus terjadi.

Pada Minggu (11/10), misalnyaa, dua warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban luka dalam serangan kelompok milisi Houthi Yaman di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arab Saudi pada Selasa (13/10) melaporkan bahwa dua WNI mengalami luka ringan dalam serangan Houthi di Bandara Internasional King Khalid.

Serangan Houthi juga menyasar kilang minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco. Sebuah gedung administrasi milik Aramco, terkena serangan yang menyebabkan kebakaran berskala kecil pada Selasa (13/10).

Serangan-serangan Houthi itu tak pelak membuat Arab Saudi kewalahan. Sehingga negara Raja Salman ini pernah meminta bantuan Amerika Serikat sebagai sekutu dekat.

[Gambas:Video CNN]

Namun, meski setidaknya dua kali Arab Saudi minta kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantu secara total melawan Houthi, tapi ditolak Trump.

Menurut laporan Al Jazeera, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Trump untuk meminta bantuan militer tersebut.

Permintaan ini datang ketika Arab Saudi kembali terlibat saling serang dengan milisi Houthi dalam beberapa waktu terakhir, dan ketika perang AS vs Iran sejak Februari lalu juga belum rampung.

Al Jazeera melaporkan, selain MbS, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman juga turut membujuk AS melalui mitranya, Menhan AS Pete Hegseth. Khalid meminta AS melakukan serangan militer untuk membela Saudi dari gempuran Houthi.

Menurut sumber Al Jazeera, penolakan AS ini muncul karena posisi resmi pemerintahan Trump saat ini adalah fokus tertuju pada perang mereka sendiri dengan Iran.

Namun ada kabar yang beredar seperti disampaikan mantan wakil duta besar AS untuk Yaman, Nabeel Khoury, bahwa "ada semacam kesepahaman diam-diam" antara pemerintahan Trump dan Houthi.

Khoury menambahkan: "Houthi berjanji kepada pemerintahan Amerika bahwa navigasi Amerika dan internasional tidak akan terpengaruh di Laut Merah, tetapi satu-satunya bahaya adalah bagi kapal-kapal Saudi atau kapal-kapal yang membawa minyak Saudi," katanya dikutip The Guardian.

Reuters menyebut, para pejabat AS bertemu dengan perwakilan Houthi Yaman di Oman pada pertengahan September lalu.

Mmenurut lima sumber yang mengetahui masalah tersebut, beberapa hari setelah milisi yang didukung Iran itu merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah dalam serangan besar-besaran yang mengalahkan pasukan yang didukung Saudi.

Pertemuan tersebut, yang belum diumumkan kepada publik, diadakan di Kedutaan Besar AS di Muscat. Dua sumber lainnya mengatakan bahwa pemerintah Oman, yang telah lama menjadi mediator regional, membantu mengatur pertemuan tersebut.

Meski pemerintahan Trump menetapkan Houthi sebagai "organisasi teroris asing" pada Maret 2025, namun mereka mau membuka dialog dengan Houthi.

Washington telah bernegosiasi dengan mereka sejak saat itu, mencapai gencatan senjata pada Mei tahun lalu setelah membombardir kelompok tersebut selama dua bulan untuk menghentikan kampanye serangan terhadap pelayaran di Laut Merah.

"Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Houthi telah menghubungi pemerintahannya melalui telepon dan meminta Amerika Serikat untuk tidak ikut campur dalam perang Yaman," tulis Reuters.

Wakil Presiden JD Vance mengatakan bahwa AS sedang melakukan kontak langsung dengan kelompok tersebut.

Dalam pertemuan yang menurut salah satu sumber berlangsung pada hari Minggu, kelompok Houthi mengatakan kepada para pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika dan bahwa mereka berkomitmen pada gencatan senjata tahun 2025 dengan AS.

(imf/bac)
placeholder