Netanyahu Desak Trump Lanjut Perangi Iran Jelang Pemilu Sela AS-Israel

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 20:28 WIB
US President Donald Trump and Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu shake hands at the conclusion of a joint press conference in the State Dining Room of the White House in Washington, DC on September 29, 2025. Israeli Prime Minister Benjamin Net
PM Israel Benjamin Netanyahu mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan perang dengan Iran sebelum pemilu Israel dan pemilihan sela AS. (Foto: AFP/Andrew Caballero-Reynolds)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan perang dengan Iran sebelum pemilu Israel dan pemilihan sela AS.

Israel akan menggelar pemilu pada 27 Oktober dan AS akan akan melangsungkan pemilihan umum sela pada 3 November.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan media Israel Channel 12, yang mengutip pejabat senior AS, Netanyahu sudah berulang kali menghubungi Trump untuk bertanya soal operasi skala besar ke Iran yang menargetkan situs militer dan fasilitas nuklir.

"Bibi sudah bicara berkali-kali ke presiden dan presiden bilang ke dia, 'Ya, Anda tahu apa, Bibi lanjutkan dan bersiap'," kata pejabat senior AS yang mengetahui masalah itu, dikutip Middle East Eye, Selasa (23/10).

Dia masih menirukan pernyataan Trump, "Bisa sekarang, bisa nanti, atau tidak sama sekali."

Desakan Netanyahu muncul lantaran dia khawatir soal langkah baru Iran terkait program nuklir mereka.

Channel 12 juga melaporkan Trump sudah menegaskan tak akan menyerang Iran sebelum pemilu. Namun, saat ini pasukan Israel dan pasukan komando AS dalam siaga tinggi jika suatu waktu politikus Republik itu berubah pikiran.

Pejabat Israel sementara itu menyebut Netanyahu menyampaikan ide Trump ke kepala pertahanan dan bertanya apakah Israel bisa bergabung.

Kantor PM Israel tak banyak berkomentar soal itu. "Perdana Menteri tak membahas masalah itu," begitu menurut mereka.

AS dan Israel menggempur Iran pada akhir Februari lalu. Operasi ini menyebabkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat top pertahanan tewas.

Iran tak tinggal diam. Mereka balik meluncurkan serangan dan menutup Selat Hormuz. Hingga kini, Iran dan AS terus saling serang terutama di selat tersebut meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata serta nota kesepahaman untuk mengakhiri perang.

(isa/rds)
placeholder