Rwanda sudah memantapkan diri jadi tuan rumah balapan Formula 1.
Ajang F1 Gran Prix Rwanda akan masuk kalender di awal 2030-an dan sudah memiliki kesepakatan selama 10 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, maka ajang balapan akan digelar di Afrika kembali sejak terakhir kali diadakan pada 1993 lewat GP Afrika Selatan di Sirkuit Kyalami, Gauteng.
Kabar tersebut disampaikan F1 lewat akun resmi milik mereka. Meski belum ada waktu pasti soal GP Rwanda, namun F1 sudah menyebutkan kerja sama selama 10 tahun.
"Formula 1 kembali ke Afrika dengan kesepakatan 10 tahun balapan di Rwanda. African Grand Prix direncanakan bakal bergabung ke kalender F1 pada awal 2030-an," tulis F1 dalam pernyataan resmi mereka.
"Dengan kehadiran Rwanda dalam kalender balapan pada dekade mendatang, olahraga ini akan digelar di tiap benua, membawa kejuaraan dunia makin dekat pada suporter di seluruh dunia."
"Afrika selalu jadi bagian dari masa depan Formula One, sejak awal kami selalu ingin kembali dengan cara yang tepat, dengan partner yang tepat, tentunya berlandaskan komitmen jangka panjang dan visi yang jeas untuk menghadirkan dampak yang bermutu," tutur Presiden F1 Stefano Domenicali.
Kebangkitan Rwanda
Pilihan pada Rwanda salah satunya karena negara ini memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan membanggakan.
Laman Xinhua menuliskan, ekonomi Rwanda terus tumbuh kuat pada semester pertama (H1) tahun 2026, dengan produk domestik bruto (PDB) riil tumbuh sebesar 9,7 persen secara tahunan, didukung oleh sektor jasa, industri, dan pertanian.
Sektor jasa terus menjadi penopang ekspansi ekonomi, tumbuh sebesar 7,4 persen pada semester pertama tahun 2026, terutama didukung oleh kinerja yang kuat di sektor perdagangan dan jasa transportasi, demikian menurut pernyataan tersebut.
Sektor industri mencatatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 15,5 persen, sementara sektor pertanian berkembang sebesar 5,9 persen pada periode tersebut.
"Terlepas dari guncangan yang dialami ekonomi kita tahun ini, pertumbuhan PDB sebesar 9,7 persen dalam enam bulan pertama sangat tinggi. Pertumbuhan ini berbasis luas, didorong oleh kinerja yang kuat di sektor industri, jasa, dan pertanian, dengan konstruksi dan manufaktur memainkan peran kunci," kata Soraya Hakuziyaremye, gubernur Bank Nasional Rwanda, saat merilis pernyataan tersebut di Kigali, ibu kota Rwanda.
Pernah perang suku
Padahal, ingatan publik tentang Rwanda masih terekam jelas sebagai negara yang pernah dilanda perang suku (Hutu dan Tutsi) paling mengerikan pada 1994 silam. Laman Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat, diperkirakan lebih dari satu juta orang tewas dan sekitar 150.000 hingga 250.000 wanita juga diperkosa.
Pada 6 April 1994, kematian Presiden Burundi dan Rwanda dalam kecelakaan pesawat akibat serangan roket memicu pembantaian massal yang intensif dan sistematis selama beberapa pekan.
Pembunuhan yang diperkirakan lebih dari satu juta orang tewas itu, mengejutkan komunitas internasional dan jelas merupakan tindakan genosida.
Anggota pengawal presiden mulai membunuh warga sipil Tutsi di sebuah bagian Kigali dekat bandara. Kurang dari setengah jam setelah kecelakaan pesawat, pos pemeriksaan yang dijaga oleh milisi Hutu yang sering dibantu oleh gendarmerie (polisi paramiliter) atau personel militer didirikan untuk mengidentifikasi warga Tutsi. Perang suku ini masuk dalam kategori genosida dalam definisi PBB.
Pemerintah Rwanda memulai persidangan genosida yang telah lama ditunggu-tunggu pada akhir tahun 1996. Penundaan tersebut disebabkan oleh fakta bahwa negara itu telah kehilangan sebagian besar personel peradilannya, belum lagi kerusakan pada pengadilan, penjara, dan infrastruktur lainnya.
Pada tahun 2000, terdapat lebih dari 100.000 tersangka genosida yang menunggu persidangan.
(imf/bac)


