Jumlah Pasien Klinik hingga IGD di Singapura Naik Buntut Karhutla RI

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 20:35 WIB
MOH Singapura mencatat jumlah pasien di klinik hingga IGD meningkat buntut kabut asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di RI.
MOH Singapura mencatat jumlah pasien di klinik hingga IGD meningkat buntut kabut asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di RI. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura mencatat jumlah pasien di klinik hingga Instalasi Gawat Darurat (IGD) meningkat buntut kabut asap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam rilis resmi usai mengumpulkan laporan dari rumah sakit, mereka menyatakan ada "sedikit peningkatan" kunjungan ke IGD dan klinik. Namun, MOH tak menyebut angka pasti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

MOH juga menegaskan belum ada kasus kematian atau sakit parah akut imbas kabut asap.

"Kami tak menemukan ada kasus yang perlu perawatan di unit perawatan intensif atau kematian akibat kabut asap," kata juru bicara MOH saat ditanya apakah kabut asap menyebabkan lonjakan pasiet di rumah sakit, dikutip Straits Times, Selasa (13/10).

Pada akhir September lalu muncul laporan yang menunjukkan lonjakan konsentrasi polutan akibat kabut asap dengan kunjungan ke IGD.

Laporan itu menemukan bahwa setiap peningkatan 10 mikrogram per meter kubik polutan PM 2,5 di atas tingkat referensi, kunjungan darurat asma dan penyakit paru-paru meningkat 3,2 persen dalam dua hari setelahnya.

[Gambas:Video CNN]

Para dokter dan staf medis juga menyatakan ada peningkatan 20-30 persen pada pasien dengan gejala terkait kabut asap. Gejala ini mencakup pilek, sakit tenggorokan, bersin, iritasi mata, asma, ruam kulit, dan masalah pernapasan.

Plt Direktur Medis Parkway Shenton, Sharon Ngoh, juga mengakui ada peningkatan kunjungan pada Oktober dibanding pertengahan September.

Kualitas udara di Singapura masuk kategori tak sehat pada 4 September, perdana dalam tiga tahun. Sejak saat itu, polusi udara di negara tersebut memicu kekhawatiran.

Sharon mengatakan jumlah pasien terkait kabut asap meningkat sekitar 30 persen.

"Paparan kumulatif, bukan hanya satu hari kualitas terburuk, yang menjadi penyebab beban kesehatan," kata dia.

Sharon lalu berujar, "Kami melihat lebih banyak pasien mengeluhkan sakit kepala dan kelelahan, yang berhubungan dengan paparan kabut asap."

Pada Selasa siang, kualitas udara di Singapura masuk dalam kategori tak sehat di angka 128 hingga 174.

(isa/bac)
placeholder