Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Christiawan Nasir (Tata) menyampaikan terima kasih setelah serah terima jabatan dengan Menlu sebelumnya, Sugiono, Senin (12/10).
Tata menyampaikan ucapan terima kasih itu dalam konferensi pers di Gedung Palapa, Kemlu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pagi tadi saya baru saja menerima serah terima jabatan dengan Pak Sugiono yang kini menjawab sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan," kata dia.
Tata lalu berujar, "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Sugiono."
Tata menyampaikan bahwa "dua tahun terakhir bukan masa yang mudah," geopolitik makin rumit, dan dunia bergerak dari satu krisis ke krisis berikutnya.
"Tapi di tengah semua itu Pak Sugiono memastikan politik luar negeri kita tetap konsisten pada prinsip bebas aktif dan amanat konstitusi. Itulah yang saya akan lanjutkan," imbuh dia.
Tata membandingkan pergantian Menlu ini bukan lah buku baru tetapi bab baru di buku yang sama.
"Menteri boleh berganti, arah politik luar negeri Indonesia tidak. Kompas kita bukan selera pribadi seorang menteri melainkan konstitusi," ungkap dia.
Undang-Undang Dasar 1945, lanjut Tata sudah memberi arah yang sangat jelas yakni melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Tata memandang bahwa keempat tujuan itu tidak pernah berubah sejak tahun 1945.
"Dan tidak akan berubah besok pagi Inilah yang kita sebut sebagai prinsip diplomasi," ujarnya.
Prinsip diplomasi dalam praktik yakni diplmasi berpijak pada kepentingan nasional dan memberi manfaat dan menjadikan bebas aktif sebagai jangkar politik luar negeri.
Tata dilantik menjadi Menlu pada awal Oktober lalu menggantikan Sugiono. Dia bukan orang baru di dunia diplomasi.
(isa/bac)


