Laporan mengenai kerusakan parah maupun korban jiwa belum bisa dipastikan setelah Panama diguncang gempa besar bermagnitudo 7,7 pada Jumat (9/10).
Victor Pinzon, seorang petugas kebersihan berusia 48 tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa ia menyaksikan para pembersih jendela gedung-gedung tinggi bertahan dari guncangan dahsyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sungguh keajaiban mereka tidak tewas," katanya.
"Mereka terlihat seperti sedang berayun di tempat tidur gantung," tambahnya.
Gempa kuat semacam ini bukan hal umum di Panama. Negara di Amerika Tengah ini jarang mengalami gempa berskala besar dibandingkan negara-negara tetangganya.
Para pekerja kantoran di pusat kota Panama City mengaku bingung untuk pulang ke rumah karena lalu lintas macet usai gempa bumi membuat ribuan orang berhamburan ke jalan.
"Mereka telah mengevakuasi semua gedung ini. Semua orang berada di luar. Sekarang masalahnya adalah, bagaimana kita pulang?" kata Juan Sanchez, pegawai kementerian ekonomi berusia 37 tahun.
Gempa bumi yang mengguncang Panama dua kali ini telah mengakibatkan beberapa bangunan serta gereja rusak. Meski begitu, skala kerusakannya kecil jika dibandingkan dengan kekuatan gempa.
Dua gempa dahsyat melanda Panama pada Jumat dengan magnitudo 7,7 dan 6,6. Serangkaian gempa susulan juga terjadi setelahnya.
Gempa berpusat sekitar 10 kilometer barat daya komunitas terpencil Pitaloza Arriba di Provinsi Herrera. Kedalaman gempa sebesar 12 kilometer, demikian menurut Badan Survei Geologi AS.
Gempa ini dilaporkan terasa hingga ke Kolombia.
Peringatan tsunami sempat dikeluarkan, yang diprediksi terjadi di sepanjang pantai Kosta Rika, El Salvador, Peru, Meksiko, Guatemala, Panama, Nikaragua, Kolombia, dan Ekuador. Namun, ancaman tersebut tak lama mereda.
Bandara Internasional Tocumen juga kini telah beroperasi kembali setelah beberapa penerbangan sempat ditangguhkan.
(blq/bac)


