Rusia mengancam akan menggunakan seluruh persenjataan yang dimilikinya, termasuk senjata nuklir taktis, jika Teluk Finlandia diblokade.
Ancaman ini muncul setelah Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, menyinggung kemungkinan NATO mengerahkan puluhan ribu tentara untuk menutup akses ke Laut Baltik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Pusat Studi Konflik Militer dan Politik Rusia, Andrey Klintsevich, mengatakan Moskow akan terpaksa menggunakan semua senjata yang tersedia jika terjadi blokade di Teluk Finlandia.
"Mereka mengandalkan NATO untuk dapat dengan cepat mengerahkan pasukan eselon pertamanya ke sana, katakanlah, untuk menutup perbatasan. Tetapi saya pikir ini hanyalah kata-kata untuk saat ini, karena Rusia akan bereaksi sangat agresif terhadap blokade semacam itu," kata Klintsevich, seperti dilaporkan kantor berita Rusia, TASS.
"Dan kami akan siap menggunakan semua senjata yang tersedia, termasuk senjata nuklir taktis, seperti yang telah kami peringatkan baru-baru ini," lanjut Klintsevich.
Ia menilai para politisi Baltik belum sepenuhnya memahami risiko yang dapat muncul akibat pernyataan tersebut.
"Para politisi Baltik tidak sepenuhnya memahami risiko-risiko ini ketika membuat pernyataan seperti itu. Bahkan Amerika, dengan tingkat kemampuan militer dan kekuatan nuklir strategis yang sama sekali berbeda, tidak membiarkan diri mereka membuat pernyataan seperti itu," jelasnya.
Sebelumnya, Tsahkna mengatakan kepada surat kabar The Times bahwa NATO dapat mengerahkan sekitar 50.000 tentara berpengalaman ke kawasan tersebut hanya dalam hitungan jam. Pasukan itu disebut berpotensi digunakan untuk menutup akses ke Laut Baltik.
Teluk Finlandia merupakan bagian dari Laut Baltik yang berbatasan dengan Finlandia, Estonia, dan Rusia. Kawasan ini memiliki arti strategis bagi Rusia
Di wilayah Kaliningrad, Rusia juga memiliki pangkalan utama Armada Baltik di Baltiysk serta sistem pertahanan udara dan rudal Iskander yang mampu membawa muatan nuklir. Sistem tersebut memungkinkan Rusia memproyeksikan kekuatan militernya ke kawasan Eropa utara dan tengah.
Namun, keberadaan sistem rudal berkemampuan nuklir itu tidak berarti setiap rudal yang dikerahkan membawa muatan nuklir.
(mge/dna)


