Soumaya-Sarre, Sosok yang Menginspirasi Demo Besar Pelajar Prancis

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 13:35 WIB
Soumaya Sarr, spokeswoman of students, addresses high school students during a general assembly as they gather amid a nationwide protest movement over school conditions in Saint-Denis, north of Paris, on October 4, 2026. (Photo by Kenzo TRIBOUILLARD
Soumaya Sarre, salah satu tokoh yang menggagas demo pelajar Prancis. Foto: AFP/KENZO TRIBOUILLARD
Jakarta, CNN Indonesia --

Demonstrasi para siswa sekolah menengah atas (SMA) atau lycee terus meluas di Prancis. Mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan dan fasilitas memadai. Kini, aksi para siswa itu pun meluas ke seantero negeri.

Setidaknya di 13 kota, dari bagian barat yakni Brest dan Rennes hingga Strasbourg dan Toulon di bagian timur, termasuk Paris yang merupakan ibu kota negara. Mengutip dari AFP, dari total 3.700 lycee di negara tersebut, sebanyak 735 sekolah terdampak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan sekarang lebih dari 250.000 siswa mayoritas dari sekolah menengah atas (SMA), guru, dan orang tua turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis untuk menuntut perbaikan kondisi sekolah pada Selasa (6/10).

Polisi anti huru hara sampai menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan sejumlah demonstran yang terlibat bentrokan.

Aksi pada Selasa (6/10) menjadi demonstrasi terbesar sejak gelombang protes dimulai sejak lebih dari dua pekan lalu. Aksi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Paris, Marseille, Nantes, Lyon, dan Bordeaux.

Diawali protes Soumaya-Sarre

Ternyata demo besar para pelajar itu dimulai dari protes Soumaya-Sarre, seorang pelajar dari SMA Jean-Renoir di pinggiran kota Paris, Bondy.

Pada bulan Juli, ia lulus dengan predikat cum laude dan melanjutkan studi Universitas Sorbonne, Paris dengan spesialisasi di bidang sejarah, geopolitik, dan ilmu politik. Seperti banyak anak muda lain, Soumaya senang menggunakan telepon selular, membuat video dan mengunggahnya.

Media Prancis, Le Monde, menuliskan awalnya perempuan 18 tahun ini mengunggah video protes terhadap Presiden Emmanuel Macron. "Hei, Macron, kau sudah keterlaluan!". Dengan seruan yang agak informal ini, Soumaya Sarré, memperkenalkan sebuah video Instagram singkat yang berdampak.

Menghadap ponsel pintarnya, ia merangkum pada akhir September rasa frustrasi yang dirasakan oleh beberapa siswa SMA di awal tahun ajaran:

"Ketika menyangkut memberi tahu kami bagaimana cara berpakaian, negara cepat bertindak, tetapi ketika menyangkut memastikan kondisi belajar yang layak, tiba-tiba tidak ada seorang pun di sekitar."

Dalam video lain, yang mendapat lebih dari 45.000 like, ia mengecam kekerasan polisi di dekat sebuah sekolah menengah. "Kami lelah harus mengenakan mantel di kelas karena sangat dingin," tambahnya.

Video-video Soumaya langsung menarik perhatian para pelajar dan mahasiswa. Perlahan namun pasti, video-video protesnya mendapatkan banyak dukungan dan simpatik hingga membawa para pelajar ke jalanan sejak September lalu.

"Video-video Instagram gadis berusia 18 tahun itu menjadi viral. Sebagai pemenang kompetisi pidato, ia bekerja dengan sebuah kelompok yang mendorong kaum muda dari lingkungan kelas pekerja untuk terlibat dalam politik," demikian laporan Le Monde.

Ia merasa nyaman berbicara di depan umum. Pada 13 Mei lalu, ia memenangkan kompetisi pidato yang diselenggarakan oleh Shoah Memorial, yang mempertemukan siswa SMA dari tiga distrik sekolah di wilayah Paris. Dalam pidatonya, ia memulai dengan mengutip Beate Klarsfeld, yang bersama suaminya, Serge, melacak penjahat Nazi.

[Gambas:Video CNN]

(imf/dna)