Alasan para siswa di Prancis berunjuk rasa besar-besaran salah satunya karena kondisi sekolah yang begitu mengenaskan.
Seorang demonstran mengatakan kepada CBS News bahwa sebuah sekolah menangah atas (SMA) di Saint-Denis dipenuhi tikus, dengan langit-langit yang sudah jebol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Saint-Denis, tepat di luar Paris, sekolah menengah atas mengalami kerusakan pada langit-langit, air masuk ke dinding, dan banyak tikus," ucapnya.
Video yang diambil oleh para siswa dan guru di sebuah sekolah di pinggiran Paris juga menunjukkan tikus berkeliaran di kawasan sekolah dan air menetes ke dalam ember. Banyak pula sekolah yang tidak difasilitasi penyejuk ruangan di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda Prancis.
"Ruang kelas tidak berventilasi, dan kami hampir tidak bisa membuka jendela," kata Issam Makhloufi (15), seorang siswa di Rosa Parks High School, St.-Denis, kepada New York Times.
Lebih dari itu, para siswa juga melaporkan bahwa ruang-ruang kelas terlalu penuh sesak dan jadwal pelajaran terlampau padat. Di tengah kondisi ini, guru dan staf juga sangat minim sehingga murid seringkali tak mendapat ilmu secara maksimal.
Kondisi ini sebetulnya dilaporkan di sekolah-sekolah yang berada di pinggiran kota. Umumnya, sekolah-sekolah ini bangunan tua, mayoritas telah didirikan sejak tahun 1950-an hingga 1970-an.
Sekolah-sekolah di Prancis dikelola oleh pemimpin daerah. Para pemimpin setempat mengaku butuh bantuan dari pemerintah pusat agar bisa melakukan renovasi.
"Sistem pendidikan publik berada dalam kondisi yang sangat buruk setelah 10 tahun pemerintahan Emmanuel Macron. Sistem ini kekurangan segalanya," kata Sophie Vénétitay, pemimpin serikat guru yang bergabung dalam demo siswa.
Sekitar 250.000 orang berpartisipasi dalam unjuk rasa yang meletus pada akhir September ini. Mereka berasal dari berbagai elemen, mulai dari siswa, guru, orang tua, mahasiwa, hingga aktivis.
Banyak orang tua dan aktivis yang turun ke jalan setelah aparat kepolisian menanggapi demo siswa dengan tindakan represif. Salah satu siswa dilaporkan kehilangan satu tangan imbas ledakan granat polisi. Siswa lain juga mengalami patah tulang rahang karena terhantam granat tepat di kepala.
Beberapa unjuk rasa di Prancis berujung kerusuhan hingga ratusan sekolah terpaksa ditutup dan beralih ke daring.
Protes besar-besaran ini terjadi di saat yang sangat sulit bagi Prancis, yang telah menjadi pusat gejolak di pasar keuangan Eropa.
Biaya pinjaman pemerintah telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir karena investor menjual obligasi pemerintah buntut khawatir tentang kemampuan Prancis mengurangi beban utangnya karena pengeluaran untuk kesejahteraan dan pensiun.
(blq/bac)


