Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan lebih dari 900 sekolah menengah atas (SMA) tutup atau diblokir pada Selasa (6/10) menyusul demo yang makin meluas di negara tersebut.
Sejumlah otoritas pendidikan juga telah memindahkan kegiatan belajar mengajar ke pembelajaran daring.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demonstrasi bermula dari Seine-Saint-Denis sekitar pertengahan September lalu. Siswa SMA di wilayah itu berdemonstrasi di depan sekolah memprotes kapasitas kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, dan kondisi gedung yang tidak memadai.
Demo perlahan meluas ke kota-kota lainnya di akhir September, hingga kini unjuk rasa berlangsung di hampir seluruh kota besar di Prancis hingga menyentuh kelompok-kelompok lainnya seperti serikat buruh.
Dilansir dari The Guardian dan New York Times, unjuk rasa di Prancis telah meluas ke lebih dari 40 kota, dari Caen di utara hingga Marseille di selatan. Demonstrasi itu diikuti oleh siswa, aktivis, guru, orang tua, hingga mahasiswa.
Lebih dari 250.000 orang diperkirakan berpartisipasi dalam unjuk rasa ini, demikian menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis.
Demonstrasi besar ini pada awalnya dimulai akhir bulan lalu di pinggiran kota Paris. Demo dengan cepat menyebar ke ratusan sekolah di seluruh Prancis seiring tingginya ketidakpuasan publik, terutama siswa.
Para siswa di Prancis pada dasarnya mengeluhkan kondisi buruk di sekolah menengah atas di daerah-daerah pinggiran. Mereka memprotes kurangnya kehadiran guru, buruknya kondisi dan fasilitas sekolah, serta ketimpangan akses pendidikan.
Demo ini juga diikuti para orang tua setelah aparat kepolisian menanggapi pedemo yang notabene siswa dengan kekerasan.
Seorang remaja usia 15 tahun kehilangan satu tangannya akibat terkena ledakan granat yang dilempar polisi. Remaja usia 14 tahun juga mengalami patah tulang rahang ganda karena terkena hantaman granat di bagian kepala pada 28 September lalu. Polisi yang bersangkutan telah didakwa atas insiden tersebut.
Amnesty International telah mendesak pihak berwenang Prancis untuk "mengakhiri represi polisi" karena tidak proporsional.
Namun, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan respons polisi sudah proporsional di "hampir semua kasus" dan bahwa intervensi polisi diperlukan lantaran protes terkadang berubah menjadi kerusuhan.
Sekitar 24 sekolah dikabarkan dibakar atau dijarah selama aksi unjuk rasa ini. Lebih dari 6.000 orang ditangkap, nyaris semuanya masih di bawah umur.
Lebih dari 1.800 orang juga dilaporkan sedang diadili, yang sebagian besar berusia di bawah 18 tahun.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu telah memerintahkan jajarannya untuk menanggapi tuntutan utama para siswa, yang meliputi kepastian agar guru absen digantikan, perbaikan terhadap bangunan-bangunan sekolah, dan peninjauan kembali durasi jam sekolah agar tidak terlalu panjang.
Ia juga mengecam kerusuhan dan kekacauan terhadap sekolah, yang turut melukai para staf.
"Membakar sekolah tidak akan membantu memperbaikinya. Menyerang guru tidak akan membantu mengganti staf yang hilang," tegasnya.
(blq/rds)


