Serangan Udara Militer Myanmar di Pasar Rakhine Tewaskan 33 Orang

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 08:55 WIB
Militer Myanmar melancarkan serangan udara ke pasar di Kota Kyauktaw, wilayah utara negara bagian Rakhine pada Selasa (29/9) menewaskan 33 orang.
Militer Myanmar melancarkan serangan udara ke pasar di Kota Kyauktaw, wilayah utara negara bagian Rakhine pada Selasa (29/9) menewaskan 33 orang. (SOCIAL MEDIA via REUTERS/SOCIAL MEDIA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Myanmar melancarkan serangan udara ke sebuah pasar di Kota Kyauktaw, wilayah utara negara bagian Rakhine pada Selasa (29/9) menewaskan 33 orang.

Rakhine merupakan negara bagian yang juga jadi basis kelompok perlawanan terhadap pemerintahan junta militer Myanmar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan udara di pasar tersebut juga melukai 36 orang, berdasarkan laporan dari pejabat dan kelompiok perlawanan, dikutip dari Al Jazeera.

Ini merupakan serangan-serangan terbaru junta Myanmar terhadap basis pemberontak dari kelompok etnis dan pro demokratis di negara bagian Rakhine.

Tentara perlawanan Arakan menyatakan bahwa sebuah pesawat tempur menjatuhkan dua bom di dekat pasar lokal di kota Kyauktaw pada Selasa siang waktu setempat, menewaskan 33 orang, termasuk pedagang, pembeli, dan pejalan kaki. Mereka menyebutkan bahwa jumlah korban tewas "mungkin akan terus bertambah".

Wai Hun Aung, seorang pejabat senior tim penyelamat di Rakhine, mengonfirmasi rincian tersebut kepada kantor berita Associated Press. Ia mengatakan bahwa pasar itu merupakan pusat grosir utama di wilayah tersebut yang menarik pedagang dan pembeli dari seluruh penjuru negara bagian itu.

"Ini adalah salah satu serangan udara paling parah di Rakhine," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Foto dan video yang diunggah di media sosial memperlihatkan bangunan-bangunan yang terbakar, kendaraan yang rusak, serta bagian jembatan di dekat lokasi kejadian yang hancur.

Militer Myanmar tidak segera memberikan komentar, namun sebelumnya mereka menyatakan hanya menyerang target militer yang sah dan menuduh kelompok perlawanan melakukan "terorisme".

Myanmar dilanda perang saudara sejak pemerintahan terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi digulingkan dalam kudeta tahun 2021. Gerakan perlawanan berskala nasional sejak saat itu telah berkembang menjadi konflik bersenjata antara pemerintah militer dan berbagai kelompok bersenjata etnis serta kelompok pro-demokrasi.

Presiden Min Aung Hlaing, mantan pemimpin pemerintahan militer Myanmar, terpilih melalui parlemen yang didukung militer pada April lalu. Pemilihan itu mengukuhkan cengkeraman kekuasaannya setelah lima tahun pemerintahan militer.

Tentara Arakan adalah kelompok militer yang terlatih dan bersenjata lengkap yang memperjuangkan otonomi bagi kelompok etnis minoritas di Rakhine.

Kelompok ini melancarkan serangan pada November 2023 dan sejak saat itu telah merebut markas militer yang strategis serta 14 dari 17 wilayah kota (township) di negara bagian tersebut.

(isa/bac)
placeholder