Komedian Turki Diadili Gegara 'Hina' Erdogan lewat Stand-Up Comedy

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 21:30 WIB
Ilustrasi hukum
Ilustrasi. Foto: iStock/BCFC
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang komedian Turki, Deniz Goktas, mulai diadili setelah didakwa menghina Presiden Recep Tayyip Erdogan melalui sebuah pertunjukan komedi.

Dalam sidang perdananya pada Senin (28/9), Goktas membantah tuduhan tersebut dengan pembelaan bernuansa satir politik yang beberapa kali membuat ruang sidang tertawa.

Goktas merupakan komedian berusia 32 tahun yang dikenal lewat humor kering dan satir politik. Ia ditangkap polisi pada 3 Juli, sekitar sepekan setelah video pertunjukan komedi berjudul "Dead Sea" viral di YouTube dan ditonton sekitar sembilan juta kali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Goktas didakwa menghina Erdogan, menghasut kebencian publik, serta memuji kejahatan dan pelaku kejahatan. Jika dinyatakan bersalah, ia terancam hukuman penjara sekitar 10 tahun, menurut perhitungan sejumlah media Turki.

Saat persidangan berlangsung di Pengadilan Caglayan, Istanbul, Goktas telah menjalani penahanan selama 88 hari. Ia kemudian menyampaikan pembelaan dengan gaya yang tidak jauh berbeda dari penampilannya di atas panggung.

Jaksa menyoroti salah satu bagian pertunjukan Goktas ketika ia menyebut Erdogan sebagai "seorang diktator pemalu". Namun, Goktas menilai pernyataan tersebut tidak ada "unsur kriminal".

"Diktator bukanlah hinaan: itu adalah karakterisasi politik," kata Goktas.

Ia juga mengatakan penyebutan nama Erdogan dalam pertunjukan komedi politik merupakan hal yang tidak terhindarkan karena Erdogan telah menjadi presiden sekaligus pemimpin partai yang berkuasa di Turki selama bertahun-tahun.

"Sebagai presiden dan pemimpin partai yang telah memerintah negara ini selama 25 tahun, sebuah pertunjukan komedi politik di mana nama Erdogan tidak pernah disebutkan sama sekali tidak akan tulus dan tidak memiliki kaitan dengan kenyataan," ujarnya.

Goktas kemudian mengatakan Erdogan seharusnya dapat menerima kritik melalui satir. "Erdogan seharusnya terbuka terhadap seni satire," katanya.

'Para pemimpin tidak bisa menerima lelucon'

Dalam pembelaannya, Goktas juga menyinggung perubahan kondisi kebebasan berekspresi di Turki. Ia mengatakan komedian dan satir politik sebelumnya dapat menyampaikan kritik tanpa menghadapi proses hukum seperti yang dialaminya.

Menurut Goktas, aturan mengenai kebebasan berekspresi tidak berubah. Namun, ia menilai kondisi politik dan sikap kepemimpinan di Turki yang berubah.

"Leluconnya tidak berubah. Yang berubah adalah kepemimpinan yang semakin rapuh dan tidak lagi bisa mentoleransi lelucon tersebut," katanya.

Ia juga mengatakan humor telah menjadi bagian dari budaya Turki selama berabad-abad. Karena itu, menurut dia, tidak seharusnya ada sensor, larangan, atau penahanan terhadap seniman yang tampil di atas panggung.

"Tidak ada tempat bagi sensor, larangan, atau penahanan ketika menyangkut seniman di atas panggung," ujar Goktas.

Sejumlah komedian dari klub komedi TuzBiber di Istanbul turut hadir dalam persidangan. Goktas dilaporkan memulai kariernya di klub tersebut pada 2019.

Persidangan itu juga dihadiri sejumlah pengamat dari Kedutaan Besar Belanda dan Amerika Serikat. Di akhir pembelaannya, Goktas meminta pengadilan membebaskannya dari seluruh dakwaan.

"Tiga bulan telah dirampas dari hidup saya. Saya sudah berhenti merokok, jadi saya akan menambahkan tiga bulan ke akhir hidup saya," katanya.

Ucapan tersebut disambut tawa dan tepuk tangan dari hadirin ketika Goktas meninggalkan kursi saksi.

[Gambas:Video CNN]

Ditahan di sel tanpa cahaya matahari

Penangkapan Goktas merupakan yang terbaru dalam tekanan terhadap orang-orang yang dianggap kritis terhadap pemerintah Islamo-konservatif Turki atau nilai-nilainya.

AFP melaporkan tindakan tersebut telah menjerat ratusan orang dari berbagai kelompok, termasuk politikus, seniman, musisi, jurnalis, dan aktivis LGBTQ.

Sejumlah pendukung Goktas hadir di luar gedung pengadilan. Salah satunya adalah seorang mahasiswa berusia 22 tahun, Fatih Yilmaz, datang dari Alanya, dekat Antalya, di Turki selatan.

Yilmaz yang baru mulai menekuni pertunjukan komedi mengatakan penangkapan Goktas tidak membuatnya takut untuk tampil.

"Saya tidak takut untuk tampil stand-up setelah penangkapannya, saya akan terus melakukannya," kata Yilmaz kepada AFP.

Menurut Yilmaz, sikap Goktas selama menjalani penahanan justru membuatnya semakin bersemangat.

"Penangkapannya membuat saya merasa bangga: sikapnya yang teguh dan caranya yang terus melontarkan lelucon dari sel penjaranya membuat saya tetap bersemangat," kata Yilmaz kepada AFP.

Pendukung lainnya menyoroti kondisi tempat Goktas ditahan di Penjara Keamanan Tinggi Karatepe, sekitar 120 kilometer sebelah barat Istanbul.

Goktas disebut ditempatkan di sel "tipe sumur" yang tidak memiliki akses cahaya matahari. Kondisi tersebut membuat penghuni seolah-olah berada di dalam sebuah sumur yang dalam.

"Saya sangat marah karena Deniz Goktas ditahan di sel tipe sumur hanya karena dia melakukan pekerjaannya," kata seorang pensiunan, Nesrin Demirkan, kepada AFP.

Goktas diketahui lahir di Ankara dan memulai karier komedian di klub TuzBiber di Istanbul. Setelah itu, ia tampil di sejumlah tempat di Eropa dan Amerika Serikat.

(mge/dna)