Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengecam keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas genosida yang terus dilakukan di Jalur Gaza, Palestina.
Sanchez menyampaikan kecaman tersebut saat pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Rabu (23/8). Dia mengatakan Spanyol telah melakukan segala upaya untuk mencegah tindakan agresi yang melanggar Piagam PBB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menjatuhkan sanksi terhadap pihak agresor Rusia, memberlakukan embargo senjata terhadap Israel, melaran penggunaan wilayah kami untuk melancarkan agresi yang bertentangan dengan hukum internasional," ujar Sanchez.
Dia lalu berujar, "Serta mengutuk dengan tegas genosida yang terus dilakukan Netanyahu di Gaza."
Sanchez menekankan selama delapan tahun terakhir memimpin negara itu, Spanyol menolak setiap agresi dan perang di mana pun termasuk di Ukraina, Lebanon, hingga Iran.
Di tengah kobaran perang di berbagai wilayah, Spanyol juga menolak untuk menaikkan anggaran militer lima persen sesuai perintah Presiden AS Donald Trump untuk anggota-anggota NATO.
Dia justru menerangkan Spanyol justru melipatgandakan investasinya dalam kerja sama dan meningkatkan kontribusi terhadap sistem multilateral sebesar 60 persen.
"Semua itu kami lakukan sembari tetap teguh memegang prinsip-prinsip kami," ungkap Sanchez.
Spanyol di bawah pemerintahan Sanchez lantang menolak agresi dan pendudukan Israel di Palestina. Sikap tegas ini bahkan turut memperburuk hubungan kedua negara.
Pada Mei 2024 bahkan pemerintahan Sanchez mengakui negara Palestina dengan alasan mendorong perdamaian hingga mendukung solusi dua negara.
"Ini adalah satu-satunya cara mewujudkan solusi yang kita semua akui sebagai satu-satunya cara untuk mewujudkan masa depan yang damai, masa depan Palestina yang hidup berdampingan dengan negara Israel dalam perdamaian dan keamanan," kata Sanchez pada 2024.
Israel meluncurkan agresi ke Palestina pada Oktober 2023. Selama operasi, mereka menggempur habis-habisan warga dan objek sipil.
Imbas agresi tersebut, lebih dari 75.000 warga di Palestina tewas, ratusan ribu rumah dan fasilitas sipil hancur, dan jutaan orang terpaksa menjadi pengungsi.
(rds/bac)
