Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengajak Korea Utara menormalisasi hubungan dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa (22/9).
Dalam pernyataannya, Takaichi menyatakan bahwa Tokyo siap untuk berdialog dengan Pyongyang guna "membangun hubungan yang saling menguntungkan".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Demi masa depan Jepang maupun Korea Utara, saya siap untuk melakukan dialog dan mengambil langkah nyata guna membangun hubungan yang saling menguntungkan sesuai dengan Deklarasi Pyongyang antara Jepang dan DPRK," kata Takaichi.
Deklarasi Jepang-Korea Utara merujuk pada perjanjian yang diteken pada 2002 oleh PM Jepang Junichiro Koizumi dan Pemimpin Korut Kim Jong Il.
Kesepakatan tersebut berisi kerangka menuju normalisasi dan komitmen kerja sama ekonomi pasca normalisasi.
Takaichi bicara demikian di tengah meningkatnya aktivitas militer Korut yang mengancam Jepang dan Korea Selatan. Korut terus melakukan uji coba rudal balistik di dekat wilayah kedua negara.
Dalam pidato yang sama, Takaichi terang-terangan menyatakan bahwa program nuklir dan rudal Pyongyang adalah ancaman serius tidak hanya bagi perdamaian dan keamanan Jepang, tetapi juga dunia internasional.
Ia juga menyoroti menguatnya kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara, serta meningkatnya aktivitas siber yang merugikan Jepang.
Selain itu, Takaichi juga kembali menyinggung masalah penculikan yang telah lama dilakukan Korut.
"Para korban penculikan masih kehilangan kebebasan mereka, dan keluarga mereka terus menderita. Hal ini menjadi perhatian serius tidak hanya bagi Jepang, tetapi juga bagi masyarakat internasional. Mengingat usia para korban penculikan dan keluarga mereka yang semakin lanjut, masalah penculikan ini harus segera diselesaikan," ucapnya.
Korut dan Jepang tidak pernah memiliki hubungan diplomatik. Kedua negara sempat melakukan pembicaraan untuk normalisasi di tahun 2000-an namun terus tersendat, terutama karena masalah penculikan di masa lalu.
Pada 2002, Korut mengaku telah menculik belasan warga Jepang dan memulangkan lima orang yang masih hidup. Sisanya, diklaim telah meninggal tanpa bukti-bukti jelas.
(blq/rds/bac)

