Apa Itu Pelican? Senjata Misterius Ukraina yang Hantam Kilang Rusia

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 10:45 WIB
Police officers stand on the roof of a multi-storey residential building damaged in a recent Ukrainian drone attack, according to local authorities, in the course of Russia-Ukraine conflict, in Moscow, Russia March 11, 2025. REUTERS/Stringer     TPX
Ukraina menggunakan sejumlah senjata jarak jauh dalam skala besar ke wilayah Rusia pada Minggu (20/9), termasuk sebuah senjata bernama "Pelican". Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ukraina menggunakan sejumlah senjata jarak jauh dalam skala besar ke wilayah Rusia pada Minggu (20/9), termasuk sebuah senjata bernama "Pelican" yang baru pertama kali digunakan dalam operasi militer.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan serangan tersebut menghantam salah satu fasilitas utama industri minyak Rusia dan fasilitas logistik di wilayah Moskow.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu fasilitas industri minyak utama Rusia dan fasilitas logistik agresor telah dihantam," kata Zelenskyy.

Menurutnya, fasilitas-fasilitas itu bernilai miliaran dolar dan menjadi bagian dari sumber daya yang menopang mesin perang Rusia.

"Ini adalah miliaran dolar yang menopang mesin perang," kata Zelenskyy.

"Sistem yang digunakan termasuk FP-1, RZ-100, MICH-2000, Palianytsia, Vendetta, Liutyi, Bars, Flamingo, Sichen, dan Pelican," lanjutnya.

Zelenskyy juga menyebut dalam sebuah unggahan di X, pada Minggu (20/9) pagi, serangan tersebut memiliki "dampak yang sangat signifikan".

Serangan berlangsung pada hari terakhir pemungutan suara dalam pemilihan parlemen Rusia.

Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, mengatakan lebih dari 1.600 drone telah dicegat, dengan sekitar 450 di antaranya mengarah ke Moskow, ibu kota Rusia. Serangan tersebut menewaskan tiga orang.

Nama "Pelican" kemudian menarik perhatian karena hingga kini belum jelas apakah senjata tersebut merupakan rudal balistik taktis atau drone.

Kebingungan mengenai Pelican muncul setelah sebelumnya Ukraina mengumumkan pengembangan rudal balistik taktis FP-7.

CEO perusahaan pertahanan Ukraina Fire Point, Iryna Terekh, mengatakan pada Pameran Industri Pertahanan Internasional ke-34 di Polandia bahwa Ukraina dapat mulai menggunakan FP-7 untuk menyerang Rusia dalam beberapa pekan, seperti dilaporkan The Kyiv Post.

FP-7 disebut mampu menyerang sasaran hingga jarak 200 kilometer dan membawa hulu ledak seberat maksimal 150 kilogram. Sistem tersebut diluncurkan dari darat dan memiliki kecepatan maksimum sekitar 1.500 meter per detik.

Pendiri sekaligus kepala perancang Fire Point, Denys Shtilerman, mengatakan FP-7 memiliki biaya lebih murah dibandingkan rudal balistik permukaan-ke-permukaan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) buatan Amerika Serikat.

Zelenskyy juga sebelumnya mengatakan Ukraina memperkirakan dapat menggunakan rudal balistik pertama buatan dalam negeri paling cepat pada musim gugur.

The Kyiv Post kemudian mengaitkan FP-7 dengan Pelican. Namun, hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari pemerintah Ukraina bahwa keduanya merupakan senjata yang sama.

New Voice of Ukraine melaporkan bahwa Fire Point, perusahaan yang juga memproduksi rudal jelajah FP-5 Flamingo, telah mengajukan pendaftaran merek dagang Pelican pada awal tahun ini.

Di sisi lain, RBC-Ukraina melaporkan dengan mengutip sumber anonim bahwa Pelican sebenarnya merupakan drone berbentuk pesawat.

Al Jazeera juga menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen laporan media Ukraina mengenai Pelican.

Pada Februari, Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan industri senjata dalam negeri mengalami "pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya". Kapasitas produksinya disebut meningkat 50 kali lipat menjadi sekitar AS$50 miliar.

Kementerian tersebut mengatakan "produsen dalam negeri kini memenuhi lebih dari separuh kebutuhan Angkatan Pertahanan Ukraina terhadap senjata dan peralatan militer".

Ukraina juga mengembangkan teknologi untuk menghadapi serangan drone Rusia.

Pada Sabtu (19/9), Zelenskyy mengatakan unit kontra intelijen militer di Dinas Keamanan Ukraina telah mengembangkan drone pencegat baru.

Menurut Zelenskyy, drone tersebut telah "berhasil digunakan" untuk menghadapi drone Shahed buatan Iran yang digunakan Rusia dalam perang.

"Selangkah demi selangkah, kita bergerak maju untuk memberikan perlindungan yang lebih besar kepada Ukraina. Saya berterima kasih kepada semua pengembang dan produsen yang bekerja setiap hari untuk meningkatkan produksi senjata yang kita butuhkan," katanya.

Pada Maret, mantan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksandr Syrskyi mengatakan lebih dari 70 persen drone serang jenis Shahed telah dihancurkan menggunakan drone pencegat pada Februari.

Kemampuan drone pencegat Ukraina tersebut juga menarik perhatian sejumlah negara Teluk yang menghadapi serangan drone dan rudal Iran selama perang AS-Israel.

Rusia dan Ukraina telah meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan logistik.

Ukraina berulang kali menyerang gudang milik perusahaan e-commerce Rusia, Wildberries, sejak Juli. Serangan tersebut dipandang sebagai upaya mengganggu rantai pasokan dan kerugian perekonomian Rusia.

Serangan terbaru ke wilayah Moskow juga berdampak pada fasilitas energi Rusia. Kebakaran dilaporkan terjadi di Kilang Minyak Moskow setelah serangan drone.

Di tengah meningkatnya serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump mendesak Zelenskyy menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia.

Menurut laporan Financial Times pada Senin (21/9), Trump menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak serangan terhadap pasokan dan harga solar dunia dalam percakapan dengan Zelenskyy pada Minggu.

(mge/rds)
placeholder