Rakyat AS Muak, Kepuasan Publik Terhadap Trump Anjlok ke 32 Persen

CNN Indonesia
Selasa, 22 Sep 2026 08:50 WIB
U.S. President Donald Trump gestures during a press conference on the day of a NATO leaders' summit in Ankara, Turkey, July 8, 2026. REUTERS/Stoyan Nenov
Angka kepuasan publik terhadap Presiden AS Donald Trump merosot hingga 32 persen. Foto: REUTERS/Stoyan Nenov
Jakarta, CNN Indonesia --

Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun menjadi 32 persen. Angka berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos itu merupakan yang terendah sepanjang karier politik Trump.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos ini dilakukan secara daring terhadap 1.277 orang dewasa di seluruh Amerika Serikat, dengan margin kesalahan sebesar ±3 poin persentase.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Al Jazeera, penurunan kepuasan publik terhadap Trump didorong kecewaan luas, termasuk dari kalangan sesama anggota Partai Republik, terkait penanganan masalah biaya hidup serta perang melawan Iran.

Survei yang berlangsung selama empat hari, dan berakhir pada Minggu (20/9) itu, mencatat dukungan terhadap Trump dari kalangan Partai Republik merosot tajam, dari 82 persen menjadi 73 persen dalam kurun waktu satu minggu. Sebelumnya, tingkat kepuasan publik secara keseluruhan terhadap Trump berada di angka 35 persen.

Trump kembali duduk di Gedung Putih pada Januari 2025 dengan dua janji utama: mengendalikan laju inflasi dan mengakhiri konflik militer di luar negeri. Saat pelantikan keduanya menjadi Presiden AS, tingkat kepuasan publik terhadap Trump tercatat sebesar 47 persen.

Kini, penanganan masalah biaya hidup menjadi titik terendah kinerja pemerintahan Trump. Hanya 17 persen responden yang menyetujui kebijakannya dalam bidang tersebut. Isu tersebut dianggap akan menentukan arah pemilu sela pada 3 November mendatang, saat Partai Republik berupaya mempertahankan keunggulan tipis di Kongres.

Ketidakpuasan di lingkungan pendukung inti semakin menguat sejak Trump melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Februari lalu. Terlebih, konflik tersebut memicu lonjakan tajam harga bahan bakar yang mencekik masyarakat menengah ke bawah.

Untuk kali pertama, mayoritas pendukung Partai Republik (51 persen) tidak setuju dengan cara Trump menangani masalah biaya hidup, berbanding 44 persen yang masih menyetujui.

Trump sendiri, pekan lalu, menyatakan Amerika Serikat "mendekati akhir" perang dengan Iran dan membuka kemungkinan kembalinya jalur diplomasi. Namun, pihak Teheran belum memberikan konfirmasi apakah negosiasi langsung telah dimulai kembali.

[Gambas:Video CNN]

(har/dna)