Amerika Serikat telah menyetujui penjualan 48 jet tempur siluman F-35 senilai US$24,3 miliar (Rp431 triliun) kepada Arab Saudi, Kamis (17/9).
Kesepakatan tersebut menjadi pembelian senjata besar terbaru yang dilakukan Saudi sejak perang AS vs Iran pecah Februari lalu.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menangkal ancaman saat ini maupun di masa mendatang dengan memperkuat pertahanan wilayahnya dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS," kata Kementerian Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, Kamis.
Kemlu AS juga menuturkan kesepakatan pembelian ini "juga akan menambah armada pesawat operasional Arab Saudi serta meningkatkan kemampuan pertahanan diri udara-ke-udara dan udara-ke-darat."
Dikutip AFP, Kemlu AS telah memberitahukan Kongres mengenai rencana penjualan tersebut namun belum membeberkan jangka waktu pengiriman jet F-35 tersebut ke Saudi. Pembelian ini masih memerlukan persetujuan anggota Kongres AS.
Arab Saudi telah lama berupaya membeli F-35 dari AS. Namun, Israel-yang saat ini menjadi satu-satunya negara sekutu AS di Timur Tengah yang memiliki jet tersebut,sering mengeluh cemas jika jet tempur tersebut dijual ke Saudi.
Lihat Juga :![]() KILAS INTERNASIONAL Kanada Mau Jadi 'Anggota' Uni Eropa Sampai Prabowo Absen Sidang PBB |
Penjualan F-35 "tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan," kata Kemlu AS, sejalan dengan kebijakan AS selama ini yang mengharuskan Israel tetap memiliki keunggulan militer atas negara-negara di kawasan.
Sejauh ini, Amerika Serikat hanya mengizinkan penjualan F-35 kepada sekutu terdekatnya, termasuk sejumlah negara anggota NATO di Eropa dan Israel.
Washington mengeluarkan Turki, yang juga merupakan anggota NATO, dari program F-35 pada 2019 karena pembelian sistem pertahanan udara Rusia oleh Ankara memicu kekhawatiran bahwa Moskow dapat memperoleh teknologi pesawat tersebut.
Penjualan F-35 tersebut merupakan pembelian senjata besar terbaru dalam serangkaian kesepakatan persenjataan yang dilakukan Arab Saudi tahun ini.
Kemlu AS pada awal September mengumumkan persetujuan penjualan lebih dari 10.000 bom senilai US$5 miliar kepada Riyadh, termasuk senjata berbobot 2.000 pon yang memiliki daya hancur sangat besar.
Washington juga menyetujui penjualan 60 mesin tank beserta peralatan terkait kepada Arab Saudi senilai US$750 juta pada bulan ini, serta kesepakatan senilai US$1,96 miliar pada Juli agar kerajaan tersebut membeli bagian sistem pemandu yang dapat mengubah roket menjadi senjata presisi.
Arab Saudi telah berulang kali menjadi sasaran serangan drone dan rudal oleh pasukan Iran sejak Teheran menghadapi serangan AS dan Israel pada Februari. Saudi juga menjadi sasaran serangan milisi Houthi di Yaman yang didukung Iran.
Perang saudara di Yaman sempat mereda selama bertahun-tahun, tetapi pertempuran antara Houthi dan pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Riyadh kembali berkobar sejak Juli lalu. Houthi juga kemudian menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan menargetkan kapal-kapalnya di Laut Merah.
Washington belum terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun, seorang pejabat AS mengatakan awal pekan ini bahwa satuan tugas militer Amerika tengah bekerja untuk meningkatkan pertukaran intelijen dan memberikan bantuan perencanaan kepada pasukan Arab Saudi.
(rds)

