Para pejabat Amerika Serikat disebut telah diperingatkan sejak bertahun-tahun sebelum serangan 11 September 2001 oleh Al Qaeda, yang menewaskan 3.000 orang.
Dilansir Al Jazeera, puluhan dokumen pengarahan presiden yang dibuka untuk umum pada peringatan 25 tahun 9/11, merinci informasi intelijen yang dikumpulkan pemeritah mengenai Osama bin Laden dan Al Qaeda.
Dokumen-dokumen tersebut menggambarkan upaya analis keamanan dalam melacak pergerakan dan sistem pendukung bin Laden, serta kekhawatiran mengenai potensi ancaman terhadap target-target AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokumen tersebut juga merinci pemahaman para pejabat mengenai jaringan bin Laden di AS dan negara-negara lain, termasuk bagaimana operasinya didanai.
Direktur Badan Intelijen AS (CIA), John Ratcliffe, mengatakan dokumen-dokumen itu merupakan rilis terbesar yang pernah mereka lakukan, terkait ringkasan harian presiden yang bersifat rahasia.
Dokumen-dokumen tersebut juga mencakup berbagai hal mulai dari berkas bulan Februari 1998 yang disiapkan untuk Presiden Bill Clinton saat itu, yang berjudul "Teroris yang Mencari Kemampuan Senjata Pemusnah Massal", dan menyebutkan nama bin Laden serta ekstremis Islam lainnya.
Laporan tertanggal 12 September 2001 pun mengindikasikan bahwa serangan tersebut telah direncanakan selama dua tahun dan juga menargetkan Gedung Capitol AS.
Sebuah dokumen pada April 1998 menggambarkan keengganan Taliban untuk menyerahkan bin Laden, dengan mencatat bahwa "rasa terima kasih atas bantuannya selama pendudukan Soviet" membuat mereka enggan untuk menjauhinya dengan cara memantau atau mengendalikan kegiatannya.
Lima bulan kemudian, seorang penyusun laporan menulis bahwa pilihan utama bin Laden adalah menyerang AS di wilayahnya sendiri di Washington, dan bahwa Al Qaeda "mungkin akan menerbangkan pesawat yang sarat bahan peledak ke sebuah kota di AS".
Dokumen lain merinci upaya bin Laden untuk mendapatkan bahan-bahan guna membuat "bom kotor" atau dirty bomb, yaitu senjata konvensional yang dicampur dengan bahan radioaktif.
Banyak dokumen telah disunting untuk menyembunyikan nama sumber dan informasi pengenal lainnya.
Dokumen-dokumen tersebut tampaknya tidak mengungkap informasi baru mengenai perencanaan serangan ataupun pemahaman pejabat AS tentang bagaimana serangan itu terjadi.

