Tak Takut Perang Dagang, Warga Kanada Kompak Boikot Produk AS

CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 16:40 WIB
Warga Kanada semakin banyak memilih produk dalam negeri dan menghindari barang asal Amerika Serikat di tengah perang dagang kedua negara.
Warga Kanada semakin banyak memilih produk dalam negeri dan menghindari barang asal Amerika Serikat di tengah perang dagang kedua negara. (Wikimedia Commons/Tony Webster)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Kanada semakin banyak memilih produk dalam negeri dan menghindari barang asal Amerika Serikat di tengah perang dagang kedua negara.

Gerakan membeli produk lokal menguat sejak Presiden AS, Donald Trump memberlakukan sejumlah tarif terhadap produk Kanada dan berulang kali menyebut Kanada sebagai "negara bagian ke-51 AS."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gerakan boikot produk AS itu pun menegaskan bahwa warga Kanada tidak takut dengan perang dagang yang dicetuskan Trump.

Salah satu warga Toronto yang bekerja sebagai pengembang perangkat lunak, Mateus Gujrel mengatakan perang dagang membuatnya lebih sadar saat memilih produk.

Ia mengganti merek susu almond yang biasa dikonsumsi dan berhenti membeli LaCroix, minuman air berkarbonasi asal AS. Ia memilih produk Kanada sebagai gantinya.

"Apa pun yang bisa kami lihat dengan jelas sebagai produk Kanada, akan kami pilih," kata Gujrel seperti dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (12/9).

"Saya tidak ingin uang kami mengalir ke AS dengan cara apa pun yang bisa saya hindari," lanjutnya.

Kepala operasional perusahaan riset pasar Narrative Research, Margaret Chapman, menyampaikan kecenderungan warga Kanada untuk membeli produk lokal bukan sekadar tren sementara.

"Inisiatif warga Kanada untuk membeli produk Kanada dan mendukung Kanada bukanlah sentimen yang hanya berlangsung sementara. Sentimen ini sangat kuat, terus berlanjut, dan kemungkinan akan bertahan," kata Chapman.

Tarif AS dan balasan Kanada

Perang dagang AS-Kanada kembali memanas pada akhir Agustus setelah negosiasi kedua negara gagal mencegah rencana tarif 50 persen AS terhadap hampir US$20 miliar produk Kanada.

Produk yang terdampak antara lain mesin, tekstil, dan tongkat hoki.

Tarif AS mulai berlaku pada 22 Agustus. Kanada kemudian membalas dengan tarif 15 hingga 50 persen terhadap sekitar US$20 miliar produk AS.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengatakan tarif tersebut merupakan respons 'dolar demi dolar' terhadap kebijakan AS. Produk yang terkena tarif balasan antara lain baja, aluminium, produk susu, peralatan rumah tangga, pakaian, dan kosmetik.

Dampak kenaikan tarif belum sepenuhnya terlihat di tingkat konsumen. Oxford Economics memperkirakan hanya sekitar 0,25 persen dari rata-rata keranjang belanja konsumen yang terdampak langsung oleh tarif baru Kanada.

Sebagian besar produk yang dikenai tarif digunakan oleh pelaku usaha, bukan langsung dibeli konsumen.

Meski demikian, harga sejumlah barang berpotensi naik dalam beberapa pekan ke depan. Pasalnya, biaya bahan dan kemasan yang digunakan dalam produk konsumen juga dapat terdampak tarif.

Analis ritel Bruce Winder mengatakan toko-toko saat ini masih menjual stok yang dibeli sebelum tarif berlaku.

"Saya pikir Anda kemungkinan akan melihat beberapa harga di rak meningkat dalam beberapa pekan ke depan," kata Winder.

Oxford Economics juga memperkirakan pelaku usaha akan menanggung setidaknya setengah biaya tarif balasan tersebut. Sementara rumah tangga diperkirakan menanggung sekitar 20 persen melalui kenaikan harga.

Warga Kanada tetap pilih produk lokal

Meski harga berpotensi naik, survei menunjukkan banyak warga Kanada masih bersedia membayar lebih untuk produk dalam negeri.

Penelitian Narrative Research menemukan 76 persen responden memilih keranjang belanja berisi produk Kanada seharga 120 dolar Kanada dibandingkan keranjang produk yang kemungkinan berasal dari AS seharga 100 dolar Kanada.

Ketika harga keranjang produk Kanada naik menjadi 140 dolar Kanada, sekitar 70 persen responden masih memilihnya.

"Orang-orang mengatakan mereka akan melakukannya, dan mereka memang melakukannya. Bahkan dalam kondisi ekonomi yang sulit, orang-orang bersedia mengeluarkan lebih banyak uang jika itu mendukung Kanada," pungkas Chapman.

(anm/bac)
placeholder