Singapura menyebut komandan milisi yang didukung Iran dan terkait teror rencana anti-Semit Mohammad Baqer Saad Dawood Al Saadi tercatat beberapa kali berusaha masuk negara ini.
Dalam laporan Singapore Terrorism Threat Assement Report yang dirilis pada Kamis (10/9), Kementerian Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD) menyatakan Al Saadi mencoba masuk dalam kurun waktu 2023 hingga 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baqer telah mengajukan visa untuk mengunjungi Singapura pada tiga kesempatan terpisah pada 2023 dan 2024, tetapi pada akhirnya tidak melakukan perjalanan ke Singapura," kata badan tersebut.
ISD meyakini komandan tersebut melakukan perjalanan di berbagai wilayah di Asia Tenggara.
"Jika dia coba masuk Singapura, dia pasti akan ditolak," demikian menurut mereka.
"Kami tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa perjalanan Baqer ke wilayah ini bisa jadi bertujuan untuk terorisme, dan dia mungkin telah mengincar Singapura sebagai target, termasuk kepentingan Amerika Serikat dan Israel/Yahudi di sini," imbuh ISD.
Lebih lanjut, ISD mengungkapkan mereka bekerja sama dengan mitra intelijen untuk menyelidiki aktivitasnya.
ISD menyebut kasus tersebut sebagai contoh bagaimana konflik di luar negeri meningkatkan ancaman serangan terhadap Singapura dan Asia Tenggara.
"Singapura dan kawasan tersebut terus merasakan dampak dari ketegangan geopolitik dan ketidakstabilan di Timur Tengah," kata ISD.
Mereka menuduh aktivitas yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan jaringan proksi bersenjatanya meningkatkan ancaman terorisme di luar wilayah konflik langsung di Timur Tengah.
Amerika Serikat mengidentifikasi Al Saadi sebagai tokoh senior di Kataeb Hizbullah, milisi di Irak yang dicap teroris oleh Washington
Namun, Kataeb Hizbullah membantah bahwa Al Saadi sebagai bagian dari mereka.
Al Saadi ditangkap di Turki lalu dipindahkan ke Amerika Serikat. Saat ini, dia masih ditahan sambil menunggu persidangan.
Asia Tenggara pernah menjadi target serangan milisi di masa lalu, termasuk pemboman kelab malam di pulau resor Bali, Indonesia pada 2002. Imbas kejadian ini, 202 orang tewas.
(isa/rds)
