Sosok Malone Lam, Remaja Singapura Putus Sekolah Curi Rp4,2 T di AS

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 13:00 WIB
Warga Singapura, Malone Lam, didakwa atas perannya dalam jaringan pencurian mata uang kripto yang merugikan korban sekitar Rp4,2 triliun.
Warga Singapura, Malone Lam, didakwa atas perannya dalam jaringan pencurian mata uang kripto yang merugikan korban sekitar Rp4,2 triliun. (Arsip Broward County Sheriff's Office)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Singapura, Malone Lam, mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat atas perannya dalam jaringan pencurian mata uang kripto yang merugikan korban hingga lebih dari US$260 juta atau sekitar Rp4,2 triliun.

Pria berusia 22 tahun itu, menyampaikan pengakuan tersebut dalam sidang di Washington, DC, pada Selasa (8/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria yang diketahui putus sekolah tersebut, mengakui telah mengatur dan memimpin jaringan kejahatan yang menargetkan pemilik mata uang kripto dalam jumlah besar melalui metode "social engineering."

Kasus ini disebut sebagai perkara terkait bitcoin pertama yang ditangani Departemen Kehakiman AS menggunakan Undang-Undang Organisasi yang Dipengaruhi dan Korup oleh Penjahat (RICO).

Lam menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara atas konspirasi kejahatan terorganisir yang mencakup penipuan melalui transfer dana elektronik dan pencucian uang.

Dalam sidang yang berlangsung hampir dua setengah jam, jaksa Christopher Howland mengatakan Lam "memainkan banyak peran" dalam jaringan tersebut.

Lam mengenakan seragam penjara berwarna hijau zaitun dan kaus putih. Ia beberapa kali berbicara untuk memastikan bahwa dirinya memahami dan menyetujui keterangan jaksa.

Ketika hakim bertanya mengenai pengakuannya, Lam menarik napas panjang sebelum mengaku bersalah.

"Saya mengaku bersalah, Yang Mulia, " kata Lam, seperti dilaporkan Channel News Asia.

Lam bersama para kaki tangannya menjalankan serangan "rekayasa sosial" dengan menyamar sebagai karyawan perusahaan terpercaya, termasuk Google. Mereka membujuk korban untuk memberikan informasi sensitif seperti kata sandi, frasa kunci, dan kode autentikasi.

Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengakses dompet mata uang kripto korban dan menguras aset yang tersimpan di dalamnya.

Salah satu pencurian terbesar terjadi pada Agustus 2024. Saat itu, Lam dan kelompoknya berhasil memperoleh lebih dari 4.100 bitcoin milik seorang korban di Washington, DC. Nilainya mencapai sekitar US$230 juta atau lebih dari Rp3,7 triliun pada saat pencurian.

Lam ditangkap pada September 2024, beberapa pekan setelah pencurian tersebut.

Mereka kemudian berupaya menyembunyikan aliran aset hasil kejahatan dengan mencuci mata uang kripto curian dan mengubahnya menjadi uang tunai maupun kartu pembayaran.

Kehidupan mewah Lam justru menarik perhatian aparat.

Ia disebut menghabiskan jutaan dolar untuk membeli mobil mewah, jam tangan, pakaian, menyewa jet pribadi, menggunakan jasa pengawal keamanan, serta menyewa sejumlah properti di Miami, Los Angeles, dan Hamptons.

Beberapa kendaraan yang dibelinya bahkan bernilai hingga US$3,8 juta.

Lam juga menghabiskan ratusan ribu dolar untuk hiburan malam. Dalam salah satu kesempatan, ia menghabiskan sekitar US$569 ribu di sebuah klub malam di Los Angeles.

Dalam persidangan, Lam juga mengungkap bahwa dirinya rutin menemui terapis dan mengonsumsi obat untuk menangani depresi, kecemasan, serta gangguan tidur.

Kasus tersebut melibatkan 18 terdakwa. Lam menjadi terdakwa ke-11 yang mengaku bersalah.

Selain menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara, Lam dan para kaki tangannya diperintahkan mengembalikan lebih dari US$245 juta dana hasil pencurian kepada para korban.

Lam dijadwalkan kembali menjalani sidang pada 8 Desember. Dalam sidang tersebut, hakim diperkirakan akan menetapkan jadwal pembacaan vonis.

(mge/bac)
placeholder