Terungkap, Netanyahu Abaikan Peringatan UEA soal Serangan Hamas

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 17:35 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengabaikan peringatan Presiden UEA Mohammad bin Zayed terkait rencana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
PM Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengabaikan peringatan Presiden UEA Mohammad bin Zayed terkait rencana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. (REUTERS/Nathan Howard)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengabaikan peringatan dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammad bin Zayed (MBZ) terkait rencana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Media Israel Haaretz melaporkan bahwa MbZ telah memberikan informasi intelijen kepada pemerintah Netanyahu pada 10 hari sebelum serangan Hamas tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Informasi tersebut berupa rencana serangan besar-besaran yang akan dilakukan Hamas ke wilayah Israel. Namun, Netanyahu tidak menyampaikan informasi tersebut kepada para petinggi keamanan Israel dan tidak mengambil tindakan apa pun.

Laporan tersebut mengutip buku baru berjudul 'Kidnapped: 843 Days of Abandonment' karya jurnalis Shlomi Eldar dan Ruth Yuval, yang disusun berdasarkan wawancara dengan puluhan narasumber, termasuk pejabat senior di Israel dan sejumlah negara.

Buku itu menyebutkan bahwa tiga pejabat tinggi asing telah diberi informasi mengenai isi percakapan telepon berdurasi 45 menit yang berlangsung pada akhir September tersebut. Laporan itu juga mengutip seorang penasihat MBZ yang mengetahui langsung perihal percakapan tersebut.

Disebutkan bahwa MBZ memperingatkan Netanyahu bahwa pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, sedang merencanakan tindakan besar terhadap Israel yang akan memicu pertumpahan darah, mengguncang stabilitas kawasan, dan berpotensi merusak Abraham Accords.

Laporan itu menyatakan bahwa MBZ terkejut dengan tanggapan Netanyahu yang tampak tenang dan tidak khawatir. Pemimpin Israel itu mengatakan kepadanya bahwa Tel Aviv memegang kendali penuh atas situasi di Gaza, bahwa tindakan Hamas kemungkinan besar akan terjadi di Tepi Barat dan Israel siap menghadapi skenario apa pun.

Mengutip dari Times of Israel, laporan tersebut menyebutkan bahwa MBZ mengetahui rencana Hamas itu dari Sinwar sendiri. Pada pertengahan 2023, Sinwar frustrasi akibat tidak ada kemajuan dalam negosiasi pertukaran tahanan dengan Israel. Saat itu Hamas menahan beberapa warga Israel yang masuk ke Gaza atas kemauan sendiri, serta jenazah dua tentara.

Ia juga telah berulang kali memperingatkan seorang pejabat senior Fatah agar menyampaikan kepada pihak Israel mengenai konsekuensi yang akan terjadi jika mereka tidak mencapai kesepakatan tersebut.

"Katakan kepada pihak Israel, jika mereka tidak bergerak maju, saya sedang menyiapkan kejutan besar bagi mereka. Katakan kepada mereka untuk bersiap menghadapi gempa bumi," demikian kutipan ucapan Sinwar dalam salah satu percakapan.

Dalam percakapan lain, Sinwar mengatakan sedang mempersiapkan "operasi yang dahsyat." Pejabat Fatah tersebut, yang memiliki hubungan erat dengan salah satu penasihat MBZ, kemudian menyampaikan informasi itu kepada rekannya tersebut.

Ia merasa "gelisah," ungkap penasihat itu kepada Haaretz.

"Baginya jelas bahwa operasi yang dibicarakan Sinwar dapat berdampak pada seluruh Timur Tengah, namun ia takut melaporkan informasi tersebut secara langsung kepada Shin Bet. Di sisi lain, ia jauh lebih takut jika tidak memberi kabar kepada Shin Bet, pihak Israel mungkin akan menuduhnya berkolaborasi dengan Sinwar. Ia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan nyawanya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyampaikan pesan tersebut kepada Bin Zayed," kata penasihat keamanan MBZ.

Laporan itu menyebutkan bahwa penasihat itu dan MBZ sendiri menafsirkan peringatan tersebut sebagai indikasi bahwa Hamas sedang mempertimbangkan untuk melancarkan perang.

Disebutkan pula bahwa pejabat Fatah dan penasihat tersebut pada akhirnya menyampaikan peringatan itu secara langsung kepada Shin Bet Israel pada pertengahan September.

Para pejabat keamanan Israel membahas peringatan tersebut pada hari-hari berikutnya, namun tidak menganggapnya sebagai ancaman serangan dari Gaza dan tidak ada keputusan konkret yang diambil.

MBZ sendiri sangat cemas dengan kurangnya respons tersebut sehingga ia kemudian berbicara langsung dengan Netanyahu yang justru menganggap remeh ancaman itu.

Laporan tersebut mencatat bahwa pada 1 Oktober, kepala Shin Bet Ronen Bar kembali mengusulkan tindakan proaktif terhadap Hamas, termasuk pembunuhan para pejabat tingginya, namun Netanyahu tidak mengambil keputusan mengenai hal itu.

Netanyahu hanya mengatakan agar badan tersebut mengajukan usulan mereka dan ia akan mempertimbangkannya. Ia sama sekali tidak menyinggung pembicaraannya dengan MBZ.

"Jika kami mengetahui peringatan-peringatan tersebut, ada kemungkinan hal itu akan memberikan bobot yang jauh lebih besar pada pesan awal yang kami terima dari Sinwar," ujar seorang pejabat senior Shin Bet kepada surat kabar tersebut.

(bac)
placeholder