Jokowi Sebut Masyarakat Harus Percaya Pemimpin di Tengah Konflik

CNN Indonesia
Sabtu, 05 Sep 2026 22:00 WIB
Presiden ketujuh RI Joko Widodo (kanan) tiba untuk menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang bersama DPR dan DPD RI tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/kye
Jokowi mengatakan masyarakat harus percaya kepada para pemimpin mereka di tengah situasi konflik untuk membantu mewujudkan perdamaian. (Foto: ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan masyarakat harus percaya kepada para pemimpin mereka di tengah situasi konflik untuk membantu mewujudkan perdamaian.

Menurut Jokowi, pemimpin memainkan peran penting dalam situasi konflik. Hal itu disampaikannya dalam jamuan makan malam yang digelar penyelenggara Penang Peace Dialogue, forum internasional perdana yang berlangsung akhir pekan ini.

Ia mengatakan seorang pemimpin harus benar-benar memahami dan mendengarkan aspirasi rakyatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seorang pemimpin bukan hanya orang yang memahami strategi dan kekuasaan, tetapi juga seseorang yang benar-benar memahami rakyatnya, mendengarkan mereka, merasakan kekhawatiran mereka, dan bekerja untuk masa depan mereka," kata Jokowi dikutip Free Malaysia Today, Sabtu (5/9).

Jokowi lantas menambahkan bahwa memiliki pemimpin yang baik saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu memahami perjuangan dan tantangan yang dihadapi para pemimpinnya.

"Ketika masyarakat memahami, semangat akan tumbuh. Ketika masyarakat percaya, dukungan akan mengikuti. Dan ketika pemimpin serta masyarakat benar-benar saling memahami, di situlah fondasi perdamaian dimulai," ujarnya.

Jokowi mengatakan perdamaian juga lahir dari hati yang bersedia mendengarkan dan keberanian untuk memahami.

Penang Peace Dialogue merupakan forum internasional yang membahas upaya mengurangi konflik melalui dialog konstruktif. Forum tersebut diperkirakan dihadiri sekitar 200 negarawan, intelektual, dan pegiat perdamaian.

Sejumlah tokoh yang dijadwalkan menjadi pembicara antara lain ekonom Malaysia Jomo Kwame Sundaram, mantan Duta Besar Singapura Kishore Mahbubani, akademisi China Victor Gao, dan ekonom Amerika Serikat Jeffrey Sachs.

(pta)