Menlu Iran Cap Netanyahu Ular, Tipu Muslihat ke AS Biar Ikut Perang

CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2026 19:34 WIB
(FILES) (FILES) Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi adjusts his glasses during a joint press conference with his Russian counterpart following their talks in Moscow on December 17, 2025. EU terrorist designation of Iran Guards a 'major strategic
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: (AFP/Ramil Sitdikov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu "ular" yang menipu pemerintah Amerika Serikat untuk perang.

"Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual telah menipu Pemerintahan AS untuk berperang melawan Iran atas nama Israel," kata Araghchi di X pada Senin (31/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Araghci juga menyebut Netanyahu secara eksplisit menertawakan bagaimana dia berhasil 'memengaruhi' AS melalui 1.000 jam waktu siaran di jaringan televisi negara tersebut.

"Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS (President of the United States/Presiden Amerika Serikat. Serpent (ular)," imbuh dia.

Secara harfiah serpent sebetulnya berarti ular berbisa atau ular besar. Namun, dalam tradisi agama dan literatur masa lalu, kata serpent kerap digunakan untuk menggambarkan iblis, dan lambang sifat licik serta penuh godaan.

Pernyataan Araghchi muncul di tengah perang AS dan Iran yang masih berkecamuk. Pemerintahan Donald Trump dan sekutunya Israel menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari lalu.

Imbas operasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya tewas. Pejabat top pertahanan juga ikut tewas dalam gempuran tersebut.

Setelah Khamenei tewas, estafet kepemimpinan berlanjut ke anaknya Mojtaba Khamenei. Dia terpilih menjadi pemimpin tertinggi usai melalui mekanisme sesuai konstitusi Iran.

AS dan Iran sebetulnya sempat gencatan senjata pada April dan meneken nota kesepahaman (MoU) pada Juni untuk mengakhiri perang. Namun, di tengah kesepakatan-kesepakatan ini, Washington berulang kali mengancam Teheran. Beberapa ancaman cuma bualan, tapi banyak pula yang betul-betul jadi serangan.

Pasukan AS bahkan menggempur infrastruktur sipil seperti jembatan, sebuah tindakan yang masuk dalam kejahatan perang.

Saat ini, mediator konflik AS-Iran, Pakistan, berusaha menarik kedua negara itu ke meja perundingan guna menghentikan perang secara permanen. Namun, sejauh ini belum ada negosiasi baru.

(isa/dna)