Banjir Bandang China-Nepal, Korban Tewas Bertambah Jadi 95 Orang

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 22:01 WIB
Houses lie partially submerged in muddy water along a riverside after flash floods at Trishuli Bazar in Nepal's Nuwakot district on August 26, 2026. A massive flood swept through Nepal's northern Rasuwa district on August 26, damaging roads and power
Banjir bandang terjang Nepal-China. (AFP/PRABIN RANABHAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Korban tewas banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan perbatasan pegunungan antara Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8) bertambah jadi 95 orang.

"Tim penyelamat di Nepal sejauh ini telah mengevakuasi 95 jenazah," ujar tim kepolisian mengutip Reuters.

Selain korban tewas, sebanyak 65 orang dilaporkan sedang menjalani perawatan di rumah sakit di wilayah ibu kota Nepal, Kathmandu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Otoritas setempat mengonfirmasi setidaknya 384 orang dilaporkan hilang dalam musibah ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 291 di antaranya merupakan wisatawan mancanegara dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Malaysia, Australia, dan Belanda.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan melaporkan delapan warganya yang merupakan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hilang. Sementara 10 warga lainnya terjebak di lokasi bencana. Selain itu, sembilan personel Angkatan Kepolisian Bersenjata Nepal yang bertugas di pos perbatasan Timure juga tersapu banjir.

Sebelumnya, luapan air deras berasal dari aliran Sungai Bhote Koshi menerjang belasan desa di Distrik Rasuwa dan Nuwakot, Nepal. Banjir kemudian mengalir deras hingga ke sistem aliran Sungai Trishuli.

Sementara di sisi China, tanah longsor menghantam area Pelabuhan Perbatasan Gyirong di Kota Shigatse, Tibet. Insiden ini memutus jalur darat, jaringan komunikasi, serta pasokan listrik di wilayah perbatasan tersebut.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengonfirmasi bencana banjir bandang ini dipicu oleh gempa bumi yang menyebabkan longsoran es dan batuan (ice-rock avalanche) di Sungai Lhende Khola, sungai yang melintasi wilayah Nepal dan Tibet.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dan Pusat Penelitian Geowisains Jerman (GFZ) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 mengguncang kawasan Tibet sekitar tujuh menit sebelum rekaman kamera pengawas (CCTV) memperlihatkan detik-detik terjangan banjir menghantam pos perbatasan.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menegaskan bahwa pemerintah telah mengerahkan personel militer (Nepal Army), kepolisian, helikopter penyelamat, dan tim medis ke lokasi bencana untuk melakukan penanganan darurat.

Di lain pihak, Presiden China Xi Jinping memberikan instruksi langsung kepada jajarannya untuk mengerahkan segala upaya pencarian korban hilang di kawasan Tibet, sekaligus memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini guna mengantisipasi bencana susulan.

(tim/dal)
placeholder