Ahli Perkirakan AS Butuh 3 Tahun Bikin Rudal usai Gempur Iran

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 12:05 WIB
Para pejabat militer AS memperingatkan operasi tempur berskala besar dapat menguras pasokan amunisi dan rudal pencegat Patriot secara mengkhawatirkan.
Para pejabat militer AS memperingatkan operasi tempur berskala besar dapat menguras pasokan amunisi dan rudal pencegat Patriot secara mengkhawatirkan. (AFP/HO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Stok rudal Amerika Serikat yang terus menipis akibat dipakai menggempur Iran bukan isapan jempol belaka.

Seperti laporan The New York Times Juli lalu, ketika AS menunda serangan besar-besaran ke Iran alasannya karena persediaan rudal jarak jauh mulia menipis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keputusan tersebut diambil usai Trump menggelar rapat terbatas bersama para penasihat senior dan pejabat kabinetnya.

Para pejabat militer memperingatkan bahwa operasi tempur berskala besar dapat menguras pasokan amunisi dan rudal pencegat Patriot secara mengkhawatirkan.

Padahal, amunisi tersebut sangat dibutuhkan untuk melindungi pasukan serta pangkalan militer AS yang tersebar di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dilaporkan memberi tahu para pejabat bahwa operasi militer besar memang memungkinkan untuk dilakukan. Namun, hal itu akan menguras habis amunisi pertahanan udara yang dimiliki Komando Pusat militer AS.

Para analis di Amerika mengatakan, implikasi jangka panjang dari perang tersebut telah mendorong pemerintahan Trump untuk mencoba sanksi ekonomi, tetapi sanksi ini kemungkinan besar tidak akan memaksa Iran untuk memenuhi tuntutan tersebut.

"Amerika Serikat kembali menggunakan tekanan ekonomi karena kekuatan militer gagal memberikan kemenangan cepat yang diharapkan," kata Negar Mortazavi, peneliti senior di Center for International Policy yang berbasis di AS, kepada Al Jazeera.

Sementara Direktur Kebijakan di National Iranian American Council (NIAC), Ryan Costello kepada Al Jazeera mengatakan, "Di atas kertas, AS dan Iran memiliki kekuatan militer yang sangat timpang," katanya.

Namun serangan ke Iran membuat AS benar-benar kehabisan amunisi.

"AS menyebabkan banyak kerusakan dengan amunisinya, tetapi Iran juga melakukan hal yang sama dengan rudal dan drone-nya. Jadi sulit untuk menggambarkan perang hingga saat ini selain sebagai kesalahan yang membawa malapetaka," kata Costello.

Menurut para ahli seperti yang ada di Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Washington, DC, pasokan rudal AS pencegat rudal telah menurun.

Pada akhir Juli, pusat tersebut menemukan bahwa dibutuhkan setidaknya tiga tahun bagi Pentagon untuk mengembalikan pasokan ke tingkat sebelum perang.

Gedung Putih telah membantah kekurangan tersebut. Tetapi para analis mengatakan masalah ini sangat nyata, meskipun bersifat sementara, dan Pentagon terpaksa mengalihkan sumber daya dari musuh seperti China.

Hal itu termasuk kapal induk AS. Pentagon telah menarik aset penting dari China, mengirimkan USS George Washington dari Jepang untuk menggantikan USS Abraham Lincoln di Teluk Persia, yang para pelautnya telah berada di laut selama berbulan-bulan lebih lama dari yang direncanakan karena perang.

Pangkalan-pangkalan utama AS di kawasan ini, termasuk markas besar Armada Kelima Angkatan Laut di Bahrain, telah rusak atau menjadi tidak aman untuk digunakan sehingga menambah ratusan kilometer pada jalur pasokan karena kapal-kapal mencari sumber pasokan hingga ke pulau Diego Garcia di Samudra Hindia.

"Menurut penilaian saya, Angkatan Bersenjata AS mungkin telah kehilangan akses secara permanen ke 15 pangkalan di Teluk Persia," tulis pensiunan jenderal bintang empat Angkatan Darat AS, Barry R McCaffrey, di akun X.

"Saya pikir sudah jelas bahwa AS kehabisan waktu untuk hal ini, jadi pemerintah beralih ke apa yang paling mereka kuasai, atau yang dianggap efektif di masa lalu, yaitu instrumen ekonomi ini," kata Jamal Abdi, kepala NIAC.

"Sebenarnya, ini adalah cara bagi pemerintah untuk mengurangi intensitasnya seperti sebelum perang ini, tetapi menyajikannya sebagai kebijakan tekanan yang ditingkatkan."

(blq/bac)
placeholder