Iran soal Pakta Makkah: Saatnya AS Hengkang dari Timteng

CNN Indonesia
Senin, 24 Agu 2026 17:16 WIB
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Mohsen Rezaei memberikan penilaian soal perjanjian keamanan trilateral Pakta Makkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Mohsen Rezaei memberikan penilaian soal perjanjian keamanan trilateral Pakta Makkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. (via REUTERS/Murat Cetinmuhurdar/PPO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Mohsen Rezaei memberikan penilaian soal perjanjian keamanan trilateral Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, Pakta Makkah (Mecca Agreement for Mutual Defence).

Rezaei menyebut pakta itu menjadi tanda Amerika Serikat ditinggalkan oleh negara-negara Timur Tengah dan sekitarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Amerika Serikat bilang ke mereka, 'Selamat tinggal, kami pergi'," kata Rezaei sembari mengejek AS, dikutip Iran International, Sabtu (22/8).

Lebih lanjut, dia menegaskan Iran mendukung persatuan yang lebih luas. Rezaei lalu mengeklaim negaranya dan Mesir harus menjadi peserta dalam aliansi regional semacam itu.

Rezaei mengataka negara anggota Pakta Makkah menemui Iran bahwa mereka sudah menandatangani perjanjian.

"Teman kami datang dan bilang, 'kami sudah membuat pakta, datang dan setujui'," kata dia menirukan perwakilan anggota pakta ini.

Namun, Rezaei kala itu mempertanyakan pakta tersebut karena tak tahu isinya dan tiba-tiba sudah ditandantangani kemudian mengajak Teheran.

Terpisah, Kepala kantor berita parlemen Iran, Mehdi Rahim, mengatakan negara anggota pakta sudah mengundang Teheran.

"Iran sudah menerima undangan untuk bergabung dengan Pejanjian Makkah dan masalah ini sedang ditinjau," kata dia.

Kementerian Luar Negeri Iran belum mengonfirmasi atau memberi tanggapan soal undangan tersebut.

Pakta Makkah ditandatangani Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada 7 Agustus. Perjanjian ini menjadi sorotan karena muncul di tengah perang Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, pakta tersebut menjadi sorotan karena mengandung pasal yang mirip Pakta Aliansi Pertahanan Atantik Utara (NATO). Klausul itu yakni berbunyi agresi terhadap salah satu dari tiga negara itu akan dianggap sebagai agresi terhadap ketiga anggota.

Namun, Menteri Luar Negeri Turki Hakkan Fidan menegaskan perjanjian tersebut bukan untuk menyerang Iran dan tak ditujukan menyerang negara mana pun.

Sejumlah pengamat menilai perjanjian tersebut justru bukti negara kawasan tak lagi mau bergantung ke AS, dengan kata lain dominasi Washington melemah.

(isa/bac)
placeholder